[Local]Buruh yang bekerja 24 jam sehari, tidak demo, tidak perlu uang makan? Ada!

Masih berhubung dengan tempa perang dalam pertarungan Calon Presiden Republik Indonesia, saya tidak terlampau setuju bahwa ini bukan perang. Lha pada kenyataannya sudah perang kok. Mengatakan ‘jangan perang’, ‘mari damai’, ‘semua cinta damai’ dll hanya membuat kerongkongan kering. Yang penting, jaga saja agar yang berlaku kriminal ditangkap, gitu aja susah.

Tapi pada level ide, perangnya miskin sekali. Semua topik dikaitkan dengan budget. Budget itu bukan segalanya, oom! Akhirnya toh nanti siapapun harus pragmatis, kalo duit di dompet tinggal seribu, ya dipas-pasin. Atau ngutang.

Topik yang lebih hangat macam penghapusan outsourcing dan gaji Rp6juta buat buruh, kan menarik untuk dibahas. Tempo hari ngobrol sama supir taksi, dia saja sadar dampaknya menaikkan gaji buruh, buruhnya sendiri gak sadar. [Incidentally, supir taksi dengan pendidikan tertinggi yang pernah saya temui punya gelar master di bidang kartografi (pembuaatan peta) dari Belanda, sekitar akhir tahun 1990an, sekitar masa krisis ekonomi. Not much demand for map-making at that time, but I hope he is flourishing today.]

Pertama, kalau gaji buruh tinggi,maka pengusaha pembuat barang2 murah akan hengkang ke tempat dengan gaji buruh rendah. Mungkin ke Vietnam, orang-orang pragmatis yang lebih baik tidak makan beras dan mengekspornya karena harganya tinggi (dibanding Indonesia, yang solusinya terhadap kenaikan harga adalah stop ekspor! stop impor! mari masuk dalam tempurung dan menyanyikan Indonesia Raya!).

Kedua, akan semakin banyak orang masuk ke sektor tersebut. Supir taksi, sarjana yg masih menganggur, ibu2 rumah tangga yang tadinya gak kerja, dll. Persaingan makin ketat! Justru buruh dgn kualifikasi pas-pasan mesti hati2, jangan-jangan mereka yang terperosok ke sektor informal macam kuli angkut barang. Karena kerja kontrakpun sudah dihapus toh?  Memang betul buruh akan lebih sejahtera, tapi itu bukan kalian. Itu akan buruh kelas baru, yang lebih berpendidikan dan trampil, dengan majikan kelas baru dan produk kelas baru.

Terakhir, semakin tinggi gaji dan fasilitas yang diminta oleh buruh, semakin besar dorongan bagi pengusaha untuk melakukan otomatisasi. Robots to the rescue! Saat ini Jepang sedang besar-besaran melakukan otomatisasi, karena penduduk mereka menciut. Mereka tidak suka orang asing membanjir, tapi di lain pihak pekerja-pekerjanya uzur dan cewek2nya ogah punya anak. Solusinya adalah robot! Dengan mudah teknologi ini bisa dibawa ke negara lain, tinggal dirakit. Lha dokter saja bisa digantikan robot apalagi buruh. Memang investasi awal besar, tapi robot tidak akan mogok, minta naik gaji, demo, dll.

Sebenarnya dengan tuntutan yang terlaku keras dan muluk, dan membiarkan orang berbuat yang muluk, buruh membunyikan lonceng kematian bagi dirinya sendiri.

Apakah berarti buruh tidak berhak sejahtera? Tentu berhak, tapi tidak hanya buruh yang berhak sejahtera, yang masih bermimpi untuk dapat kerja juga berhak, yang cacat dan yang tua renta juga. Makanya tuntutlah pemerintah menyediakan pendidikan gratis, pengobatan gratis, maka kau akan berjuang dengan seluruh rakyat. Jadi walaupun gaji kecil, kalau keluarga sakit tidak jatuh miskin dan anak (SATU saja cukup!) bisa sekolah hingga kelak terampil dan bisa jadi bos atas para robot! Uang jangan dihabiskan buat rokok dan pulsa, sebaiknya gunakan untuk beli sayur atau buku buat anak — masa depan merekalah yang kita perjuangkan. Salam dua jari.

 

 

 

 

 

[Local] Jangan Kaget Kalau dalam Waktu Dekat Listrik Semakin Sering Mati

Source

Nih lagi kelakuan pengusaha Indonesia, minta insentiiiif melulu. Bikin ini bikin itu, perlu insentif. Tapi coba tebak pemirsa, komponen biaya utama (kalau tidak paling besar) dalam mengolah biji2 mineral itu apa (di luar bahan baku mineralnya sendiri)?

a. energi

b. tenaga kerja

c. gula

d. semua di atas

Jawaban yang benar adalah a. Coba cek ke toko sebelah. Atau coba saja google image dengan kata kunci ‘smelter‘, isinya panas bo. Nah sekarang tidak kaget kan, kenapa Indonesia ekspor bahan mineral mentah, tidak mengolah. Bukan karena dijampi jampi! Karena kagak masuk bo, itung2annya. Emangnya energi kita banyak? Iya banyak, tapi masih dalam mimpi. Coba tanya warga Medan yang sempat bulanan gak ada listrik tempo hari. Sepupu saya sampe gotong generator ke gereja pas hari nikahnya.

[Ada tuh cadangan dari pembangkit listrik tenaga air Asahan, tapi dipake buat bikin aluminium, kerjasama dengan Jepang, udah puluhan tahun belum untung juga, dan sekarang dibeli pulak sama pemerintah. Buset dah, orang Jepang si raja efisiensi aja kagak bisa bikin untung tuh pabrik. Tapi mari lanjutkan bikin aluminium, masalah harga diri bangsa ini! Persetan dengan brides yang mesti memakai bulu mata palsu di dalam gelap; masi untung gak kecolok tuh matanya dan buta, kan! *masih untung, I’m so Indonesian*]

Sekarang pemerintah mengharuskan mineral diolah dalam negeri. Lha terpaksalah kumpeni2 asing itu ribet cari partner kumpeni domestik untuk bikin pabrik [Coba tebak siapa yang diajak partner? The usual suspectlah. Yang saya tahu, belum ada tuh koperasi tahu tempe diajak jadi partner; kalau ada kabarin saya ya, saya juga mau daptar jadi partner].

Nah setelah dapat partner, dilanjutkan dengan minta insentif: ya pajaklah minta diturunkan, ya supply gas/minyak disubsidi digaransi, dibolehin ngebabat hutan, kredit murah, etc. Kenapa mereka minta-minta insentif? Karena pabrik pengolahan untungnya keciiiil. Buat emas, treatment/refining charge yg didapat (balas jasa pengolahan yg dilakukan pabrik) hanya 0,3% dari harga emas di pasar dunia. Baca ya, bukan 3%, bukan 30%. Ibaratnya nih kalo calo tas Hermes Birkin, harga tas Rp150jt dan dia mesti pontang panting cari sana sini, dikasi ongkos lelah sama buyer Rp450rb. Gak salah juga dong kalo pengusaha minta insentif.

Akhirnya dengan insentif, negara keluar Rp1jt untuk dapat Rp1juta. Ya masih baguslah kalau dapatnya Rp1jt, impas, walau ini artinya duit pajak masuk ke kantong pengusaha dalam bentuk insentif. Kalau hitung2an kasar sih, bakal buntung, i.e. keluar Rp1jt, dapetnya gak Rp1jt, atau dapat Rp1jt tapi 13 tahun lagi. Terus ya, liat deh foto di bawah. Pabrik sagede gitu, dengan investasi satu milyar yen (ngitung berapa dalam rupiah aja gak berani ijk) , berapa orang coba yang kerja? EMPAT! Dibagi dalam dua shift, satu orang mencet tombol, satu orang keliling untuk meriksa mesin2, make sure pada jalan. *kalo ini hiperbola, data bilang 161 orang. dikit kan? lha cuma mencet tombol doang!*

Mendingan duitnya dipakai buat invest di calo tas Hermes, atau pembatik, atau para pembuat bulu mata palsu. Biarin aja Cina mengolah mineral, biar habis energi mereka dan negaranya polusi (loe kate segitu banyak pembakaran gak bikin polusi?). Tapi, inilah nasionalisme: di mana hebatnya Indonesia kalau gak bisa mengolah emas sendiri?? Bullshit.

Source
Source

 

 

[Local]Beli Kuda dari Argentina itu Termasuk Bocor Bukan?

Bocor jadi kata kunci di Indonesia sekarang. Dan ini ekonom ngaco. Atau wartawan ngaco.

“semakin tinggi nilai ICOR, itu artinya semakin tidak efisien modal yang digunakan oleh pemerintah Indonesia”

ICOR (ai-kor) itu bukan mengukur produktivitas pemerintah. Lha pemerintah kerjaannya kagak bangun jalan, bikin sepatu, bikin furniture. ICOR itu urusannya private sector, kerjaan kita-kita orang, real sector, yang asli orang Indonesia sama yang asing, digabung. Pemerintah itu mengawasi. Kenapa rendah, ya ada kontribusi pemerintah juga misal pengurusan ijin2 lambat, tidak jelas, tata-ruang rubah2, dll.

“Sebanyak 52-40 persen kebocoran pajak atau yang dibilang Prabowo itu opportunity loss karena kita menyerahkan atau transfer keuntungan ke asing, maka ada kebocoran ke luar negeri.”

Ini lebih parah lagi, dicampur aduk semuanya pajak, bocor, opportunity loss, keuntungan, asing. Sigh. Pajak bocor artinya tidak optimal, kenapa, bisa 1) kkn, jadi harusnya dipungut 15%, realisasi 4%); 2) pajaknya gak diitung bener, gak progresif, macam orang angkut 1 ton batu bara pajaknya per ton sama dengan dia angkut seribu ton. Dia angkut 1 ton ikan, sama per tonnya dengan 1,000 ton ikan. Lha pajak penghasilan kita2 kenapa dihitung progresif tapi pengusaha enggak? Coba deh tanya ARB, dia demen gak pakai pajak progresif buat usaha batubaranya (eh masih kan? atau udah bangkrut?).

Opportunity loss itu hilang kesempatan. Kesempatan mendapat uang contohnya, karena proyek dikasih ke orang asing yang mengelola dan mereka dapat untungnya. Lha emang ada orang yg mau mengelola dan gak dapat untung? Jangankan orang asing, orang Indonesia aja gak ada yang mau kalo gak ada untung GUEDHE. Makanya di Raja Ampat yang bikin resort orang bule, karena orang Indonesia gak mau risiko gede, kerja susah, untung kecil. Mereka maunya ‘main’ batubara, sawit, dll yang gampang, tinggal keruk jual keruk jual, gak pake urusan dengan rakyat, community development, sustainability, dll.

Opportunity loss itu juga ketika duit kita tidak bergerak dalam bentuk kuda. Let’s say nilai kuda Rp100milyar rupiah, di kandang. Lha hilanglah kesempatan  untuk uang berbunga di bank, di instrumen investasi lainnya. Kecuali kuda ternyata instrumen investasi, bisa juga, anakannya kan pasti ada. *shrugs*

“migas, pertambangan lain, energi, listrik yang lari ke asing”

Kenapa lari ke asing, karena orang Indonesia gak bisa ngerjain! Gak mampu. Coba deh, anda sebutkan 3 hal di mana pemerintah Indonesia dikenal karena efisiensi. Ok jangan 3, satu aja deh. Something that Indonesian government does efficiently, terutama buat kalian yg pernah tinggal di luar negeri.*krikkrikrik*

Ok, bagaimana dengan private sector? Private sector Indonesia mana yg dikenal efisien di dunia? Mungkin sektor animasi, membuat batik,membuat bulu mata ya. Asing yang malah nyari ke mari. Gak ada kan, produksi batik lari ke ‘asing’? Ya karena kita efisien. Mau lempar urusan energi, tambang dll ke para pembatik? *shrugs* Kalau urusan pengelolaan dikasih ke orang yg lebh tidak efisien, guess what happens to ICOR? Ya semakin jelek nilainya. Jadi kembali ke atas, kita close the loop. ICOR jelek, lantas hal-hal ya lari ke asing itu dibawa ke dalam negeri, what happens with ICOR? Kalau dibuka pasar taruhan sih, saya taruh duit di ICOR akan semakin jelek. Dengan kata lain, ICORnya bocor. *rhymes*

Dekat2 Pemilu memang urusan nasionalisme lebih kental, tapi nasionalisme sempit. Semua harus dikerjakan oleh kita sendiri, semua duit harus tetap di dalam negeri. Lha kalo begitu jadinya, gak bisa beli kuda dari Argentina dong kalo duit kudu parkir di dalam negeri? Btw, kalau beli kuda-kuda dari Argentina itu termasuk bocor atau bukan? Kalo beli kosmetik impor ya jelas bocor; dompet saya yang bocor maksudnya.

 

[Local] Seandainya Hittler Dulu Menang, Mana ada Negara Indonesia. Kita Semua Sekarang Sudah Jadi Budak Ras Aria

Saya tidak mengerti kenapa orang masih menganggap Ahmad Dhani relevan. Masih banyak role model yang lebih baik.

Anyway, Boni Hargens juga kadang tidak bisa dipercaya karena suka drama, saya cari sendiri artikel Der Spiegel yang sekarang ramai dibahas. Benar-benar rindu intellectually stimulating discussion on the elections, but I think we will have to wait until around August or September, ketika para intelektual (the real intellectuals) selesai berefleksi.

Anyway, tidak ada yang baru di artikel Der Spiegel (‘cermin’) tersebut, dan Boni Hargens terbukti juga mendramatisir kali ini.

1. Der Spiegel tidak bilang kalau kampanye Prabowo militeristik. Ternyata mereka tidak sedalam itu; kalau benar mereka bilang seperti itu, baik sekali pengamatannya. Tapi ternyata mereka hanya bilang kalau kampanye Prabowo dipenuhi dengan nilai estetika kemiliteran. Which is, sah-sah aja, rumah mode Alexander McQueen juga sarat dengan nilai estetis kemiliteran, not least worn by Kate Middleton.

2. Der Spiegel tidak bilang bahwa mereka khawatir Indonesia jatuh kembali ke jaman diktator. Yang mereka bilang, para aktivis prodemokrasi dan wartawan khawatir Indonesia jatuh kembali ke jaman diktator.

Yang paling menarik menurut saya justru salah satu komentar di artikel tersebut, bahwa seandainya Hitler menang, saat ini tidak akan ada yang namanya Indonesia. Ini benar sekali. Seandainya skenario itu yang terjadi, mungkin orang Indonesia (dan orang Asia kulit sawo matang lainnya) saat ini adalah budak para ras Aria dan kolaboratornya. I might be comfort woman and you might be digging trenches in the deep winter of Germany. Ahmad Dhani mungkin jongos yang membersihkan kakus mereka (he loves them so much, they might give him the easy job). Jadi jangan main-main dengan sejarah, don’t take it lightly and play around, because freedom is precious. It is precious.

 

 

[Local] Aburizal Bakrie orang paling berbahaya di Indonesia saat ini?

Saya pernah bilang Aburizal Bakrie orng paling berbahaya di Indonesia saat ini. Ini salah satu buktinya. Dan saya selalu bilang, tidak otomatis pengusaha ‘sukses’ akan menjadi pejabat publik yang sukses. BEDA cara mengelolanya. Di sini Aburizal sudah menjadikan partai seperti perusahaan peribadinya. Bahkan Gerindra saja, yang anggota partainya mendukung Capres lain, gak heboh memecat (atau paling tidak, mereka lakukan diam-diam).

Anyway, isu lain adalah Ruhut yang sekarang mendukung Jokowi-JK, padahal kemarin-kemarin mencela2 Jokowi. I despise this man, he is an embarrassment to civilized Bataks. Tapi apakah dia menjilat ludahnya sendiri kali ini? Saya pikir tidak. Tapi pemilu adalah waktu untuk mengambil pilihan yang sulit, memilik yang terbaik dari yg terjelek, dan rekam jejak menunjukkan orang ini pragmatis. Jelas dia menunjukkan bahwa alternatifnya lebih jelek, hanya saja tidak berani dia caci maki, nyawa taruhannya hahahaha.

[Local] Wartawan gak lulus matematika SD

Kuiz nih.

Ibu Budi mendapatkan Rp1jt dari Bapak Budi untuk membeli makanan buat keluarga selama satu bulan. Di tahun kedua, Bapak Budi menurunkan jumlah uang yang diberikan menjadi Rp500rb per bulan, dengan syarat bahwa Ibu Budi harus meningkatkan kualitas pangan keluarga. Asumsikan harga-harga bahan pangan tidak berubah.

Berapa uang yang harus dicari oleh Ibu Budi per bulan?
a. Rp500rb
b. lebih dari Rp500rb
c. kurang dari Rp500rb
d. tidak ada.

Jawaban yang benar tentu b, karena 1) kualitas yang sama saja biayanya Rp1jt, 2) harus memperbaiki kualitas maka ada biaya, kecuali Ibu Budi penyihir. Tapi wartawan Indonesia akan menjawab KECUALI b, karena setiap kali ada penurunan subsidi dari pemerintah, maka akan bilang 1) diharapkan harga tidak naik terlalu tinggi dan/atau 2) harga yang naik akan diimbangi dengan peningkatan kualitas.

Lha siapa yang mau menutup biayanya, Dedy Corbuzier?

Kesal kesal kesal pada pendidikan Indonesia. Obviously. Since they failed to teach basic math! Sini tak ajarin!
Kesal juga kepada Bapak Budi!

 

Salah kaprah tentang rambut dan kuku

Seperti kuku, rambut yang sudah ada di atas kulit, adalah sel mati. Mati. Killed. Dead. Apakah benda mati bernapas? Makan? Minum? Ikut lomba lempar lembing??

Bila demikian, apakah berarti tidak ada gunanya dan tidak perlu perawatan? Tentu tidak. Tapi salah kaprah kalau perawatannya untuk memberi nutrisi, membiarkan bernapas, etc. Memangnya dukun, mau membangkitkan benda mati? Plus kalau memang mau dibangkitkan ya mbok yang lain gitu, yg lebih berharga dan menarik misal err…..

Jadi bagaimana perawatannya? Ya tentu apa tujuan yang dikehendaki? I’m a nail polish addict, so my nails are the canvas I need to show off the polish. Jadi harus kuat, keras, dan permukaannya smooth. Kuat dan keras berarti pori2nya harus diisi. Pakai apa, ya macam-macam, perlu eksperimen. Karena contohnya nih, sponge mandi kan berpori-pori sehingga bisa menyerap …sesuatu. Untuk melakukan … sesuatu. Bisa menyerap air, minuman anggur, darah, dll. Kalo tujuan untuk lap jendela, yang mboros banget kalo diisi Sangria kan. Kecuali memang Sangria anti kotor dan kaca bisa bersih berminggu-minggu, boleh deh dilakukan. Or unless you have so much money you don’t know what to do with it.

So it’s a waste to shower nails and hair with nutrients, etc, because they’re dead. Killed.

Nutrisi itu diperlukan sebelum rambut atau kuku keluar dari permukaan kulit (killed!). But that’s for another blog post.