Makeup Rip-off…not!

I’m always vexed at people who quatsch when the price of a palette is higher than purchasing individual items (in terms of value per volume). Rip off! they say. Well …. no. Look at the higher price as the premium you have to pay for  1) the convenience of having all the colors in one package, which can be convenient for storage and travel; 2) the opportunity to buy more colors at less cost, e.g. if singles are @$50, and a palette of two colors with each half the volume of singles is $60, you are saving having to shell out $100 (for something you don’t know you’re going to really like or will use up, etc). In other words, the $10 is the premium you pay for lowering your risk and/or the opportunity to spend the $40 in something else.

It’s really nice when companies sell palettes at a lower per unit cost than singles, but in some cases, a higher per unit cost still makes economic sense. Like all things, not everyone will value the convenience, but that hardly makes the product a rip off (making it sound like the company is trying to steal something from you) anymore than anything else you don’t value (Hello Kitty anything, why??). Especially if the price and product volume is clearly in the labels – that’ what 2nd grade math class/the calculator on your phone is for. The best you can say is, the company over-estimated people’s values for the convenience.

 

 

[Local]Televisi Pembodohan Nasional

Atau Televisi Bodoh Nasional? Nonton TVOne selalu bikin emosi. Sore ini program mengangkat kenaikan harga US dollar vis a vis Rupiah. Argumen penyiar adalah bahwa turunnya nilai Rupiah terhadap dollar menyulitkan masyarakat. Ada Kwik Kian Gie, yang berargumen bahwa rakyat sulit, dan menunggu gebrakan Jokowi misalnya melarang masuknnya buah impor sama sekali.

Pertama, yang kesulitan dengan naiknya nilai $ adalah orang yang komponen konsumsi barang impornya tinggi. Apakah ini orang miskin? NO! Ini adalah wartawan yang suka pakai barang impor, middle class yang komponen konsumsi impornya besar. Kalau orang kayak yang suka mejeng di majalah Tattler sih gak kena efeknya, their money are already in US$ and perhaps even overseas.

Kedua, yang kesulitan dengan naiknya nilai $ adalah orang yg HUTANGNYA banyak dalam dollar. Contohnya? Hehehe saya gak usah bilang, tau sendiri kan (dan hampir default gak bisa bayar hutang).

Ketiga, banyak yang senang dengan dollar mahal. Pertama, orang2 yg ekspor (dan bahan bakunya komponen lokal) karena produknya semakin bersaing di pasar ekspor. Di dalam negeri, produk-produk lokal juga semakin berdaya saing dengan produk impor. Bayangkan, dulu harga lipstick Sariayu Rp35 ribu dibandingkan dengan harga lipstick MAC di bawah Rp200rb. Sekarang, lipstick Sariayu Rp35rb dan lipstick MAC menembus Rp300rb. Kalau anda punya anggaran satu juta rupiah untuk membeli kado natal untuk 5 orang, tebak produk mana yang anda akan beli, produk impor atau buatan dalam negeri?

Keempat, kalau anda sekarang merasa SULIT dengan dollar naik, mendukung kebijakan ala Kwik Kian Gie dengan menutup keran impor sama sekali akan membuat anda MATI. Jadi adalah kebodohan kalo dalam satu kata bilang lho kok sekarang sulit, di lain pihak bilang ayo jadikan keadaan semakin sulit. But you know what, those folks are too ignorant to understand their fallacy of argument. *geleng-geleng*

Tahu gak kayak gimana negara yang tertutup keran impornya? Coba cek bagaimana orang di Kuba dan Korea Utara hidup. Mau seperti itu? Kalau saya sih ogah, anda saja pindah ke sana, sekeluarga TVOne lebih bagus lagi.

 

[Local] Berita Local (or, the tough crowd in my household)

Joko Widodo on the cover of Time Magazine
Source

Look who’s on the cover of Time! He will take the oath on 20 October 2014. Insyaallah, all will go well. Amin.
[Btw, I just noticed how brown his eyes are.]

On the other hand, the sore loser is being advised not to attend. Like, we care?

The other day, Professor (!) Didik Rachbini was on one of the tv channels. JakTV I think. He went on and on about the lack of poverty reduction in the last 3 years; the bad bad state budget, etc.

My Dad: ah, banyak omong! Menkonya siapa?! (Hatta Rajasa, Didik’s party leader).

Today, watching tv and the whole hoolabaloo of Rafi Ahmad’s wedding:

Dad: “Siapa dia?”

Mom: “Artis yang dulu ketangkep narkoba terus dikeluarin.”

Even the Jodha Akbar snooz-fest gets more respect in my household than Didik, Hatta, Rafi. .

[Local] Daging Babi memang Enak, Jendral!

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM): “Kami menyesalkan bahwa Setyani Novanti dipilih menjadi pemasok daging untuk makan siang di DPR. Saudari Setyani sudah berkali-kali diperiksa oleh BPOM dalam berbagai kasus daging sapi yang bercampur daging babi dan daging celeng.”

Fahri Zoney: “Sebaiknya BPOM tidak berpendapat seperti itu, masing-masing harus fokus di bidangnya. Jadi jangan berkomentar seperti pengamat lah. Kepala BPOM sangat spekulatif dan merugikan DPR secara lembaga serta Setyani secara personal. Kita tidak mau dirugikan dengan segala macam isu yang sejauh ini juga tidak ada kebenarannya. Kalau berani tangkap saja langsung Saudari Setyani.”

Yes, daging babi memang enak, jendral! [Tapi masih lebih enak kaki kodok goreng mentega]

Catatan penulis: Ini adalah karya fiksi. Bila ada kesamaan alur cerita dan nama tokoh (misal dengan berita ini), itu hanya kebetulan belaka.

 

[Local] Wawancara Prabowo Subianto dengan BBC (alias, Mari Saya Tipu)

Wawancara Prabowo Subianto dengan BBC World News Impact benar2 menunjukkan bahwa Prabowo banyak berbohong untuk membentuk opini.

1. Interviewer: “We’re ten days away from the official results. What do you think that result will be?”

Prabowo: “Well all the real count that is coming in shows that I’m leading. So, I think I’m very confident that I’ve gotten the mandate of the Indonesian people.”

HAHAHAHAHAHA. Delusional.

2. Interviewer: menjelaskan bahwa beberapa poll (yg di masa lalu cukup reliable) memberikan hasil bahwa Jokowi menang.

Prabowo: “No no no no, … completely the other way around. Those institutions that you mentioned, they’re all very partisan, they have openly supported Joko Widodo for the last maybe one year. They’re actually part of the Joko Widodo campaign supporters. So they’re completely not objective, and I think they are part of this grand design to manipulate perception. So let us rely on the legal institution of Indonesia. There is General Elections Commission….we have witnesses at every polling station, …. and let the General Elections Commission decide.”

Ya, di sini kelihatan banget tidak tahu malu untuk point a finger to other people, padahal all the polling stations yg memberi data kemenangannya sendiri, adalah supporter of the Prabowo camp. Jigong menuding ingus kotor. This is I think the most revealing part of the interview, di mana dia mencoba memanipulasi pendapat internasional.

3. Interviewer: “Why are you so sure that you think you will win?”

Prabowo: “All the surveryor companies that you mentioned, they are commercial companies. I can tell you sixteen that put me ahead. ”

More lies! Sixteen companies mana? Ini bohong banget.

4. Interviewer: memberikan contoh beberapa pendapat tentang Jokowi (man of the people, etc).

Prabowo: “My rival is a product of PR campaign… he is actually a tool of the oligarchs…..  He is not a man of the people, he claims to be humble but in my opinion that is just an act.”

This is the second most important point for me, di mana dia menghina Jokowi secara terbuka. Sementara Jokowi apa pernah bilang bahwa Prabowo pura-pura merakyat padahal naik kuda Argentina harga milyaran? Yang mana yang lebih pura-pura, sir? Oh wait, you’re not even pura-puraing with the helicopters. Dan tentang oligarchs, bagaimana dengan oligarch di belakang Prabowo sendiri, penguasa media RCTI, TVOne dll? Benar-benar gak malu ya, mungkin dikiranya orang Indonesia tidak bisa bahasa Inggris? Pada titik inilah opini saya tentang Prabowo berada pada level terendah, orang ini lebih rendah dari ******.

5. Interviewer: mengungkit bahwa dulu Prabowo dikaitkan dengan penculikan dan pembunuhan aktivis.

Prabowo: “Everytime I get a lot of support in the polls, all these accusations … come up. I’m leading the third largest party in the fourth largest country in the world. I’m leading a coalition which represents two thirds of the Indonesian people. How can two thirds of the Indonesian people be so stupid to support someone who is what my rivals accuse me of being?”

Now this is just plain stupid. Bahwa dia komandan dari ko alisi yg pegang 2/3 kursi parlemen (katanya, saya sendiri belum hitung), bukan berarti 2/3 orang Indonesia mendukung dia. Makanya kita punya Pilpres langsung, one man one vote, persis untuk menunjukkan bahwa kursi di parlemen tidak menunjukkan besarnya mandan kepresidenan. Ini buah dari pengalaman pahit di masa lalu, ketika partai pemenang pemilu ditikam dari belakang oleh ko alisi partai2 gurem (I don’t know why he always pronounce it like that, as if it’s two words).

6. Interviewer: “Isn’t it about time that you address this allegations? How are you going to put an end to it?” (kelihatan interviewer berjuang mencari kata agar Prabowo mengerti bahwa dia menanyakan gimana caranya, CARAnya sir!).

Prabowo: “I have answered many many times on record…. This is just a political campaign to destroy me.”

Kalau saya dituduh mencuri, apa yang saya lakukan? Bilang berkali-kali bahwa saya tidak mencuri? Gak cukup! Saya akan menyediakan alibi, membawa orang-orang untuk bersaksi, meminta untuk dibuka pengadilannya, minta rekening saya dibuka, rumah saya diperiksa, transaksi saya diperiksa, tas saya digeledah, untuk membuktikan saya tidak mencuri. Kalau saya tidak mencuri. Sejak kapan cukup untuk bilang “I didn’t do it!” Dan dalam hal ini, Prabowo tidak punya game plan selain bilang “I didn’t do it”,which is, bahkan untuk pencuri ayam pun, tidak cukup. So he can not defend himself other than to say I didn’t do it, in which case it is increasingly looking like he is guilty. Menurut saya, jangan ragu2, Jokowi sikat saja, buka semua 1998 supaya apa yang terjadi saat itu. Dan sekalian persistiwa 1965, supaya jelas once and for all apakah Suharto melakukan kudeta (dan menghentikan nonsens tentang doi sebagai pahlawan nasional). Tapi kemungkinan Jokowi tidak akan buka, karena dia terlalu cinta damai.

Masih ada beberapa poin lain seperti penyerangan yang dilakukan oleh camp Jokowi ke tv station. Saya sendiri gak paham isu ini, setahu saya karena TVOne menuduh PDIP or someone there as communist? I don’t really care about this point krn menurut saya yg melakukan penyerangan ke TVOne juga bodoh. Perkarakan saja and SUE THEM FOR BOATLOADS OF MONEY! OR CLOSE THEM DOWN! Ngapain diserang, not worth getting your hands dirty.

Anyway, jadi kesimpulannya apa?

1. Prabowo tidak sepintar yang orang pikir atau yang dia ingin orang pikir. Dia pintar ngomong, pintar Bahasa Inggris. Bahkan mungkin ini alasan dia maju dalam karir militer, i.e. karena dia pintar ngomong dan bisa Bhs Inggris. Jaman dulu kan jarang yg punya kemampuan seperti ini. Jadi sebenarnya Prabowo ini biasa-biasa saja, tidak pintar apalagi brilyan. Makanya gagal terus, sudah dapat semua fasilitas tetap gagal dalam karir sebagai militer (salahkan TNI kalau Timtim lepas, kalau diperlakukan berperikemanusiaan tentu senang di bawah Indonesia) dan tidak visioner (he bet on the wrong side of democracy, on the wrong girl,….. etc).

2. Prabowo tidak segan memutarbalikkan fakta bahkan berbohong dan melakukan penipuan. Didikannya intelijen, ya harusnya memang telah didik untuk itu, tapi selain itu doi juga tidak punya malu untuk menuding orang lain menipu, padahal dia sendiri yang menipu.

3. Prabowo seperti anak kecil, yang kalau tidak dapat apa yang dimau, merengek2. Dan dia bisa diperdayakan oleh orang-orang yg menjilat pantatnya (mana ahli statistik dan matematiknya, mana?!). A poor judge of character.

Hampir setengah orang Indonesia bisa dibohongi oleh Prabowo dan mesinnya. It is a sorry state.

 

 

 

[Loca]Ilmu Statistik adalah Seni

Source
Source

Ilmu statistik adalah seni, itu dulu disebut oleh salah satu dosen saya. Tapi saya lupa siapa. Atau saya baca dalam buku teks ya? Anyway, hasil quick count Pilpres RI kesempatan bagus untuk refresh lagi, terutama mengkritisi beberapa penjelasan yang saya temukan online.

1. Tentang random sampling. Lha random (acak) itu bukan berarti tanpa aturan. Simpelnya, setiap unit sampel memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Jadi bisa saya, bisa tetangga depan, bisa tetangga belakang, dll. Penjelasan di sini tidak tepat, karena ada satu bagian dari populasi yang sepertinya dengan sampling strategy apapun, memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi sampel (yg di tengah, dibandingkan yg di pinggir-pinggir). Bukan itu artinya random. Random adalah misalnya di satu kompleks ada 100 rumah, diperlukan 10 sampel, maka dihitung tiap rumah ke 10, dan rumah pertama dipilih oleh komputer dari nomor rumah yang sudah dimasukkan ke dalam database, lantas berlanjut searah jarum jam. Dengan sampling strategy seperti ini, sebelum survey dilakukan, tidak ada yang bisa mengatakan bahwa rumah tertentu pasti jadi sampel dan rumah lain tidak. Atau rumah mewah memiliki kans menjadi sampel lebih besar, dibanding rumah sederhana. Bahkan ketika tiba di suatu rumah, dan ternyata tidak ada orang, harus sudah ada protokol untuk mengatur apa yang terjadi (apakah rumah di kiri atau kanan yang diambil, dan apakah untuk menentukannya dilakukan pelembaran koin, dll).

Tapi bahkan ketika metode sampling pun sudah sama, ada kemungkinan sampel tidak sama. Misalnya, sampel ditentukan bukan berdasarkan rumah, tapi berdasarkan nama kepala keluarga, yang sudah diurut alfabetis. Komputer memilih nama pertama untuk start penghitungan, dari 100 nama, dan sampel berikutnya adalah hitungan ke 10 bergerak ke alfabet dalam urutan berikutnya. Tapi kalau mengurut nama kepala keluarga ternyata terbalik, descending dan bukan ascending (jadi dari Z ke A), maka tentu 10 orang yang terpilih sebagai sampel pun tidak akan sama persis.

2. Tentang stratified random sampling. Di sini sebenarnya nilai seninya. Katakanlah anda ingin mengetahui berapa % wanita suka memakai lipstik warna merah. Kalau populasi anda adalah semua orang yg pernah membeli lipstik merah, maka untuk mengetahui apakah mereka suka memakai lipstik merah, anda hanya perlu sampel kecil, satu orang sudah cukup. Jawabannya sudah mereflesikan populasi tersebut.

[Hiperbole ini, tergantung populasinya juga sih, ada yang sudah beli tapi takut pakenya. Ah wanita!].

Kalau anda ingin tahu berapa % wanita yang sedang berada di Mall hari ini, suka memakai lipstick merah sehari-hari, tentu sampel sejumlah 1 tidak cukup representatif. Bila di Mall sekarang ada 1,000 orang, paling akurat untuk menanyakan kepada mereka semua. Tapi tidak perlu juga, kalau anda tahu profil dari seribu orang tsb. Misal dari 1,000 pengunjung tersebut ada 500 orang biarawati uzur yang sedang berkunjung mengadakan temu kangen. Dari 500 orang ini ya perlu sample sedikit saja, cukuplah untuk mengetahui mereka suka memakai lipstick merah atau tidak. Dari 500 orang lainnya, terbagi antara remaja, wanita dewasa, nenek2, dll, jumlah sampelnya tentu berbeda dengan si 500 biarawati, karena profil populasi tersebut lebih heterogen, perlu lebih banyak sampel.

Jelas bahwa untuk melakukan stratifikasi, perlu pengetahuan tentang populasi. Dan biasanya pengetahuan ini semakin terasah dengan pengalaman.

3. Jumlah sampel banyak berarti akurat? NO! Dengan contoh di atas, misal budget anda untuk interview 100 orang, dan anda ambil sampel 50 di kalangan biarawati, dan 50 di sisanya. Sedangkan saya, dengan budget untuk 60, ambil sampel 5 di biarawati dan 55 untuk 500 pengunjung lainnya. Hasil survey saya mungkin malah lebih akurat dibanding survey anda (dengan biaya yg lebih rendah pula). Sekali lagi, semakin berpengalaman, akan semakin efisien tanpa mengorbankan presisi. Sama saja dengan masak bubur ayam atau bikin velvet cake, ngerti takaran yang pas.

Yang paling presisi tentunya adalah penghitungan untuk seluruh populasi. Dalam hal ini, hasil dari 479,183 TPS seluruh Indonesia dan luar negeri. Sebenarnya di jaman teknologi tidak sulit, tapi saya tetap takjub bahwa hasil scan form rekapitulasi bisa kita lihat sendiri di website KPU: http://pilpres2014.kpu.go.id/c1.php

Saya pikir, ini upaya yang sangat baik dari KPU untuk transparan dan adil. Kita bisa cek satu2 tentunya. Saya sudah cek TPS saya, bagaimana dengan anda?

[Local]Being Golput when the stakes are high is only for the Ignorant

It’s a bit blunt, but I do agree with this guy commenting on the Jakarta Post piece. Against all risks, the JP decides to officially announce their support for Joko Widodo. Saya kok jadi ingat suatu kejadian di pertengahan 90-an. Waktu itu saya melamar menjadi panitia sebuah event internasional di Jakarta, dan kala itu, semua yang terlibat mewakili negara akan diwawancara oleh hmm siapa mereka ya, saya lupa naanya. BP4 atau sejenisnya, badan penegak Pancasila. Akhirnya sampailah ke pertanyaan tentang keluarga dan anak-anak tokoh PKI. Apakah mereka patut bebas dalam masyarakat. Semacam itulah. Dan jawaban saya ya tentu saja, lha wong anaknya gak salah kok. Eh ternyata ini bukan jawaban yang ‘benar’. Akhirnya di-‘interogasilah’ saya sampai berjam-jam, dan diskusi masuk sampai ke isu Marxisme dll. Saya mulai khawatir karena saya tahu pendapat saya tidak mainstream (as evidenced in this blog). I thought about the probability of being ‘taken away’, yang sering terjadi jaman itu.

Meja-meja wawancara lain sudah berganti-ganti orang, saya masih sama bapak itu, mungkin 5 jam. Setelah sampai sore hari, tinggal kami di meja itu yang lain sudah selesai. Kasihan juga, he got the wrong person to go head-to-head with. Akhirnya dia tutup juga wawancaranya. Saya sudah pasrah, saya pikir saya tidak akan diterima, masih bagus tidak ditangkap. Eh ternyata diterima.

Pointnya adalah, mempertahankan pendapat memakan waktu dan energi. Pastilah Jakarta Post sudah melakukan diskusi panjang dengan pemilik, pekerja, dan stakehholder mereka lainnya. But defending your conviction feels good.

But, I aim to sway so here I shoot cause helloooo, the stakes ARE high.

1. Kenapa Prabowo baru dimasalahkan sekarang, tapi di 2009 waktu duet dengan Megawati tidak?

Defending your conviction itu cape bok! Kalo memang orangnya gak bakal menang (dan pada saat itu poll utk SBY di kitaran 70% kalau tak salah ingat), ya diemin aja. Biarin deh mereka kampanye, hitung2 kontribusi terhadap roda perekonomian negara toh, all the t-shirts, nasi bungkus and metromini chartered? Para aktivis orang paling rasionallah kalo soal strategi, energi gak usah dibuang percuma. But now? The stakes are high.

2. Kubu Prabowo anti kampanye hitam.

Lho jadi kampanye hitam ke Jokowi, yang bilang dia orang kafirlah, inilah itulah, asalnya bukan dari pendukung Prabowo? Dari mana, pendukung Vladimir Putin? Kalau dibilang tidak tahu siapa pendana Obor Rakyat, bullshit. Ini bukan pendana kelas tikus. Kalau benar berita beredar bahwa 100,000 eksemplar beredar tiga kali, dengan asumsi biaya cetak Rp15rb (beberapa halaman full color bo!), maka ini sekitar (bentar, hitung nolnya dulu) Rp4,5 milyar. Jelas ini bukan dukungan level Ahmad Dhani. Dan tidak tahu? Ridiculous.

[Incidentally, kalau takut sama kafir, ya lebih baik milih Jokowi. Kalo Prabowo kan ibunya Kristen, didikan dari lahir sudah kafir macam saya, katanya kan 5 tahun pertama penting tuh menanamkan karakter? Sodara-sodaranya juga pelangi. Jadi, saya gak ngerti logikanya orang Sumsel yang pilih Prabowo karena Jokowi kafir, kalau hal itu memang benar yang terjadi. Tapi yang paling keliatan hipokrit ya macam FPI dan PKS. Hari ini bilang kafir, ketika dijanjikan kedudukan, ikutan. Hidup kafir! Saya aja yang kafir pilih yang muslim. Nah bingung kan? Lha namanya agama suku ras gak usah deh dimasukkan faktor pertimbangan. Yang penting karakter, bung! Emang bisa diminta terlahir sebagai orang Norwegia? Masih untung bukan orang Congo! Masing2 tertinggi dan terendah tingkat kesejahteraannya di dunia.]

Ok fine, kalau gak tahu, memang Prabowo kayaknya kuper, gak tahu ini itu. Tim Mawar gak tau, tim lain gak tau, siapa si kocek tebal gak tau, ckckck. Percuma pinter.

Kalo tahu tapi menutupi, lha katanya anti kampanye hitam? Berarti boong dong, kok gak bisa kontrol apa yang dikerjakan pendukungnya? That you cannot control your anak buah is increasingly evident, bung.

3. Tidak ada bukti Prabowo kabur ke Jordania/terlibat kerusuhan 98/dipecat tidak hormat etc.

Yang paling saya gak ngerti tuh kata ‘bukti’. Pendukung Prabowo selalu bilang tidak ada buktinya karena Prabowo kan sudah bilang dia bisnis/dia gak tau/dia ini itu. Sejak omongan orang yg melakukan bisa menjadi bukti? Kalau tidak salah, dalam hukum, bahkan bila ada seseorang mengaku membunuh, untuk menjatuhkan vonis pengadilan harus mencari bukti dulu. Jadi tidak bisa pada omongan orang yang bersangkutan. Jadi ini bukan ‘bukti’ namanya. Dan omongan orang di twitter/facebook/blog macam saya ini, juga bukan bukti, bukan benar, bukan fakta. Ini adalah opini.

Given tidak ada proses pengadilan yang benar, maka hanya ada kejadian2 yang bisa memberikan arah, itupun bukan bukti. Misal kejadian penculikan oleh aktivis oleh anak buah Prabowo (pengakuan tim mawar); Prabowo hengkang ke luar negeri (cap di paspor, pasti ada toh); dipecat oleh TNI (bukti dokumen TNI); kejadian pisah dengan anak istri (bukti tidak serumah-incidentally, some people say what has it got to do with his qualifications as president? Nah ini. pembelaan kubu Prabowo adalah doi diusir oleh Keluarga Suharto. Lha kalo sama mertua aja takut gimana mau melawan dunia, jendral?! so, I say it plays a large role. apakah diusir?  Kalau ya, spineless! dan kenapa? Kalau tidak diusir tapi pergi sudah tidak ada cinta, berarti pintar bersandiwara. I actually think it’s an important indicator of character).

Itu dari sisi personalia. Dari sisi kebijakan, koalisi belangbentongnya saja sudah keliatan ngaconya. Terutama koalisi dengan FPI. [Kalau tahu buah dari angkat senjata dan masuk penjara adalah organ macam FPI bisa bebas di Indonesia, dulu nenek moyang gue ngapain cape2, enakan di bawah Belandalah.] Plus kebijakan-kebijakannya yang ajaib – cetak 2juta hektar sawah! kasih Rp1milyar per desa! kasih duit ke guru/petani/buruh/semua orang! agama dimurnikan!

Kalau Jakarta Post heran kenapa orang cepat melupakan kejadian 1998, saya heran kenapa orang cepat melupakan gagalnya Orde Baru. Padahal saya termasuk orang yang nyaman lho di jaman Orba, gak pernah dipenjara, masuk sekolah no 1, dll. Tapi percayalah, ketika hati nurani dikekang,  ketika logika diberangus, ketika mulut dipasung, itu tidak enak. Jujur. Lebih enak bisa bicara bebas, bisa berpikir bebas, tapi makan seadanya. Itu dulu cita-cita pendahulu kita ketika berjuang untuk merdeka. Jangan sia-siakan. Pilihlah demi pembaruan, perbaikan, dan perjuangan untuk Indonesia yang pluralis dan demokratis. Jangan khianati leluhur anda (kecuali leluhur anda Kartosuwiryo atau Dr. Suomokil lain cerita).

Selamat berperang dengan dirimu sendiri.