[Local] Sariayu Inspirasi Papua Colors of Asia 2015

sariayu colors of asia inspirasi papua 2015

My favorite local cosmetics brand recently launched their 2015 Collection: Inspirasi Papua Colors of Asia. The adverts are eye-catching, but what caught my eye was the double-sided lipsticks. I swatched them yesterday.

Below are swatches of the lipsticks, in sets of 3 swatches where the first is the lipstick swiped fully, and the next two a swipe of each side of the lipstick.

  • PK 01, a muted pink and a beige/flesh tone color
  • PK O2, a red and a peachy pink
  • PK 03, a burgundy and a strongly yellow orange.

The most wearable amongst these would be PK 02. The red is definitely office friendly. The most stand-out color is the burgundy side of PK 03. The orange side PK 03 is strongly yellow for an orange; it’s not really flattering for the medium-toned Asian skin. However, I’m quite sure that mixed together, the two colors of PK 03 can yield the brownish red that is the 2015 Pantone color of the year (Marsala).

Now comes the tricky part: application. As you can see, swiping the lipstick full on will not yield a meshing of color. You have to manually mix the colors either with a brush or fingers. Not easy and potentially messy. Further, applying only one side of the lipstick to the lips is also tricky and a bit uncomfortable as we’re so used to applying lipsticks blindly, don’t we? I wonder what would happen to the lipstick in the long run if only one side is used often.

Anyway, with a price tag of Rp48,000, these lipsticks are affordable. You get 3 colors in each tube, and bonus points if  you like all three. I did not buy anything yesterday as I wanted the tote bag that was bonus for purchases of Rp250,000 and the store was out of the totes. They’re still available online though, but I might just call ahead first to see if they still have the totes in stock. These lipsticks are also great souvenirs to give to your foreign friends since the packaging is very Indonesian and the color is quite universally flattering (especially PK 02).

sariayu lipsticks seri papua

In the picture below, lip color is the burgundy side of PK 03 after I wore and erased the orange side. You can see that the result is a brownish red and quite different than the hand swatch. The hand swatch color is more accurate.

sariayu colors of asia inspirasi papua 2015cSource of headline picture

Source of lipstick in tube picture

 

 

[Local]Televisi Pembodohan Nasional

Atau Televisi Bodoh Nasional? Nonton TVOne selalu bikin emosi. Sore ini program mengangkat kenaikan harga US dollar vis a vis Rupiah. Argumen penyiar adalah bahwa turunnya nilai Rupiah terhadap dollar menyulitkan masyarakat. Ada Kwik Kian Gie, yang berargumen bahwa rakyat sulit, dan menunggu gebrakan Jokowi misalnya melarang masuknnya buah impor sama sekali.

Pertama, yang kesulitan dengan naiknya nilai $ adalah orang yang komponen konsumsi barang impornya tinggi. Apakah ini orang miskin? NO! Ini adalah wartawan yang suka pakai barang impor, middle class yang komponen konsumsi impornya besar. Kalau orang kayak yang suka mejeng di majalah Tattler sih gak kena efeknya, their money are already in US$ and perhaps even overseas.

Kedua, yang kesulitan dengan naiknya nilai $ adalah orang yg HUTANGNYA banyak dalam dollar. Contohnya? Hehehe saya gak usah bilang, tau sendiri kan (dan hampir default gak bisa bayar hutang).

Ketiga, banyak yang senang dengan dollar mahal. Pertama, orang2 yg ekspor (dan bahan bakunya komponen lokal) karena produknya semakin bersaing di pasar ekspor. Di dalam negeri, produk-produk lokal juga semakin berdaya saing dengan produk impor. Bayangkan, dulu harga lipstick Sariayu Rp35 ribu dibandingkan dengan harga lipstick MAC di bawah Rp200rb. Sekarang, lipstick Sariayu Rp35rb dan lipstick MAC menembus Rp300rb. Kalau anda punya anggaran satu juta rupiah untuk membeli kado natal untuk 5 orang, tebak produk mana yang anda akan beli, produk impor atau buatan dalam negeri?

Keempat, kalau anda sekarang merasa SULIT dengan dollar naik, mendukung kebijakan ala Kwik Kian Gie dengan menutup keran impor sama sekali akan membuat anda MATI. Jadi adalah kebodohan kalo dalam satu kata bilang lho kok sekarang sulit, di lain pihak bilang ayo jadikan keadaan semakin sulit. But you know what, those folks are too ignorant to understand their fallacy of argument. *geleng-geleng*

Tahu gak kayak gimana negara yang tertutup keran impornya? Coba cek bagaimana orang di Kuba dan Korea Utara hidup. Mau seperti itu? Kalau saya sih ogah, anda saja pindah ke sana, sekeluarga TVOne lebih bagus lagi.

 

[Local]They must not have been virgins….

jakarta post batam clash picture
Source: The Jakarta Post

When I first heard about the clash between Indonesian soldiers and police in Batam, I told myself, those policemen and solders must not have been virgins when they applied to their academies.

What has virginity got to do with it??

Exactly.

Further, I would like to propose that all soldiers and police involved in the incidence be resorted to pay for all the ammunition losses and the destruction they caused. They should not get away with spending public-owned supplies and equipments for their little war game. They wanted to fight? They should’ve used their private tools and if there’s none, their own muscles. Soldiers and police should not use the people’s money to fund their antics. If they can’t pay, they should be consigned to forced labor to pay off their debts.

Rant over. For now.

[Local]Buat Apa Harga BBM Naik?

A woman cooks bread over burning cow dung in New Delhi, India
A woman cooks bread over burning cow dung in New Delhi, India (Source: Reuters via National Geographic)

Sebenarnya pertanyaan yang lebih betul adalah, buat apa melepas subsidi bahan bakar minyak (BBM). Harga akan ditentukan oleh pasar sesuai dengan nilai barang tersebut bagi para penggunanya (terutama bila subsidi dilepas seluruhnya).

Ada banyak justifikasi melepas subsidi yang diungkap di media, tapi beberapa alasan yang belum saya lihat terartikulasi dengan baik (atau bahkan tidak sama sekali) . Pertama adalah peletakan nilai BBM pada tingkat sesungguhnya dibandingkan barang lain. Bila subsidi terus diberikan, BBM akan relatif dianggap murah dibandingkan bahan bakar lain; dibandingkan jalan kaki; dibandingkan lipstik; dibandingkan es krim. Selanjutnya, hal-hal yang intensif menggunakan BBM (e.g. kebut-kebutan motor) menjadi lebih atraktif (karena relatif murah) dibandingkan hal-hal yang tidak intensif menggunakan bbm (e.g. lomba lari, baca buku). Anak muda yang orang tuanya hanya buruh cuci pun dengan entengnya menghabiskan 2-3 liter bbm untuk kebut-kebutan.

Kedua, bila BBM terus disubsidi di Indonesia, sementara di negara lain tidak, Indonesia akan kalah bersaing dari sisi efisiensi membuat barang. Bayangkan Timor-Leste yang harga BBMnya mengikuti harga pasar (bahkan hingga US$1.3 per liter), bersaing dengan Indonesia dalam memproduksi sepatu. Anggap saja hal-hal lain sama (ketrampilan buruh, ongkos produksi lain kecuali energi yang sama-sama dari BBM), maka karena harus bersaing dengan Indonesia yang murah, Timor-Leste harus mati-matian menjadi efisien, kalau tidak dia tidak bisa menjual sepatunya di pasar ekspor karena kalah dengan Indonesia. Bayangkan nanti ketika BBM benar-benar habis. Siapa yang akan lebih efisien dan memenangkan persaingan?

Bila Indonesia tidak efisien dari sekarang, sementara negara lain dalam 10-20 tahun sudah pandai dan efisien mengolah energi terbarukan untuk dipakai dalam segala lini kehidupan, maka tingkat kesejahteraan orang Indonesia akan relatif rendah dibandingkan penduduk lain di dunia. Bukannya tidak mungkin bagi Timor-Leste memberikan subsidi bagi warganya, wong penduduknya hanya sekitar sejuta orang dan merekapun memiliki ladang minyak (mungkin ada lebih banyak orang di Thamrin-Sudirman dibanding satu negara Timor-Leste) tapi bahkan merekapun tahu bahwa kebijakan tersebut akan menjadi boomerang dalam jangka panjang.

Ketiga, dampak negatif dari subsidi BBM terhadap berkembangnya sumber energi lain. Salah satu acara favorit saya di tv adalah siaran ulang Deutsche Welle, dan jelas terlihat di sana bagaimana sumber energi selain BBM berkembang pesat di Jerman. Mobil dengan 100% tenaga listrik sudah lumrah, bahkan charging station dan segala perangkat charging berkembang. Di Inggris, bus umum menggunakan biogas (dari kotoran manusia dan sisa makanan). Di Indonesia, hampir tidak ada sumber energi lain yang berkembang, padahal negara ini kaya sumber energi, bahkan energi terbarukan yang lebih bersih (rendah emisi karbon, rendah polusi dan baik bagi kesehatan, dll) bahkan yg bersumber dari penduduk yang 250 juta ini.

Keempat, BBM yang murah dibandingkan negara lain mendorong terjadinya penyelundupan. Penyelundupan ke Malaysia dan Timor-Leste sudah banyak direkam dalam media massa; bahkan penyelundupan ini ditengarai merupakan salah satu bisnis bagi (oknum) militer. Kasus tawuran antara Polisi dan TNI di Batam, disebut juga bermula dari permasalahan BBM. Ada banyak kasus seperti ini, yaitu berebut BBM untuk dijual ke tempat lain dan mendapat untung (buntut dari harga yang terlalu murah dan fakta bahwa banyak orang mau membeli walaupun lebih mahal).

Kelima, subsidi BBM mendorong deplesi sumberdaya lain dan polusi. Orang Indonesia masih saja beranggapan bahwa sumberdaya di Indonesia melimpah. Padahal tidak demikian. Ya masih banyak jumlahnya, tapi dibanding dengan jumlah penduduk sudah tidak cukup. Sumberdaya perikanan di hampir seluruh perairan di Indonesia sudah dalam kondisi tangkap lebih, i.e. yang ditangkap bukan hanya yang tumbuh tapi juga stoknya. Ibarat uang di bank, yang diambil tidak hanya bunganya tapi pokoknya. Lama-lama tabungannya habis kalau diambil pokoknya terus. Bahkan diperkirakan pokoknya sudah sangat menurun, terutama karena kita tidak tahu berapa yang diambil secara ilegal. Dalam kondisi ini, kalau diberikan BBM murah malah akan mempercepat habisnya stok. Dengan kata lain, kita bayar orang untuk menghabiskan tabungan. Gila kan? Kenapa ada yang mendukung? Lha siapa yang tidak mau dapat barang murah apalagi gratis? Tapi yang waras harus menggiring yang gila dong, jangan yang gila yang diikuti.

Tentang polusi, selain berkontrobusi terhadap penyakit saluran pernapasan, terhadap kemacetan, dll, emisi BBM juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Panjang ceritanya, tapi biayanya cukup besar and guess what? Yang terkena dampak terbesar adalah orang miskin (karena mereka tidak bisa melindungi diri dari akibatnya, i.e. beli masker, pasang ac,  meninggikan atau pindah rumah karena banjir rob, etc).

Semua argumen di atas solid, silakan Google untuk mendapatkan studi2nya. Tentu kalau berpikir bahwa BBM murah sudah menjadi hak karena merupakan kurnia Tuhan bagi bangsa Indonesia, argumen apapun mentah. Dan bagi mereka ini, saya doakan di hidup berikutnya anda tinggal di India dan harus mengumpulkan kotoran sapi untuk digunakan sebagai bahan bakar memasak tanpa kompor di rumah anda yang sempit tanpa jendela dan tanpa kamar.

 

 

[Local] Best Advertisement of All Time

My first ever full time job, even before I finished college, was in the creative department of a multinational advertising company. I was quick to decide it wasn’t intellectually challenging enough and too…. frivolous. I was there about 7 months but was involved in several pitches and campaigns. I don’t tell people, generally, and it’s not in my resume. But I’d like to think that I have a more practiced eye than most people and advertisements hold a soft spot in my  heart.

One of the best advertisements I’ve ever seen is one that’s been running for quite sometime on Youtube. It is by soapmaker Lifebuoy, about avoiding premature deaths amongst children less than 5 years old. It is very touching, naturally acted, and very precisely drive the point across. See for yourself.

I’ve been impressed by Lifebuoy for a long time. They are pretty focused with their campaigns, and their corporate social responsibility projects are right up their alley – promotion of hand washing with soap. Never discount the importance of soap when you’re hand washing my friends, your life may depend on it. And kudos for everyone at Lifebuoy for being exacting and unfrivolous. I’d have loved to work on this account.

[Local] Berita Local (or, the tough crowd in my household)

Joko Widodo on the cover of Time Magazine
Source

Look who’s on the cover of Time! He will take the oath on 20 October 2014. Insyaallah, all will go well. Amin.
[Btw, I just noticed how brown his eyes are.]

On the other hand, the sore loser is being advised not to attend. Like, we care?

The other day, Professor (!) Didik Rachbini was on one of the tv channels. JakTV I think. He went on and on about the lack of poverty reduction in the last 3 years; the bad bad state budget, etc.

My Dad: ah, banyak omong! Menkonya siapa?! (Hatta Rajasa, Didik’s party leader).

Today, watching tv and the whole hoolabaloo of Rafi Ahmad’s wedding:

Dad: “Siapa dia?”

Mom: “Artis yang dulu ketangkep narkoba terus dikeluarin.”

Even the Jodha Akbar snooz-fest gets more respect in my household than Didik, Hatta, Rafi. .

[Local] Daging Babi memang Enak, Jendral!

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM): “Kami menyesalkan bahwa Setyani Novanti dipilih menjadi pemasok daging untuk makan siang di DPR. Saudari Setyani sudah berkali-kali diperiksa oleh BPOM dalam berbagai kasus daging sapi yang bercampur daging babi dan daging celeng.”

Fahri Zoney: “Sebaiknya BPOM tidak berpendapat seperti itu, masing-masing harus fokus di bidangnya. Jadi jangan berkomentar seperti pengamat lah. Kepala BPOM sangat spekulatif dan merugikan DPR secara lembaga serta Setyani secara personal. Kita tidak mau dirugikan dengan segala macam isu yang sejauh ini juga tidak ada kebenarannya. Kalau berani tangkap saja langsung Saudari Setyani.”

Yes, daging babi memang enak, jendral! [Tapi masih lebih enak kaki kodok goreng mentega]

Catatan penulis: Ini adalah karya fiksi. Bila ada kesamaan alur cerita dan nama tokoh (misal dengan berita ini), itu hanya kebetulan belaka.