[Local] Masalah Hutang Negara itu Bukan Nilainya atau Bunganya, tapi BOCORNYA!

ADB LIBOR based interest

Tempo hari baca berita kalau belum sekian hari, pemerintahan Jokowi sudah hutan xx amount. Baru inget lagi bahasan itu karena baca dokumen ini, info tentang tingkat bunga untuk pinjaman dari Asian Development Bank (ADB). I thought maybe I should post it here, mungkin ada yang ngira kalau pemerintah berhutang ke bank multilateral macam World Bank atau ADB, maka bunganya macam kredit panci atau kredit motor atau kredit korset. Ya nggaklah, ini kan yang pinjem negara, which is kemungkinan ngemplang bakal lebih kecil daripada Ujang si tukang ojek. Untuk hutang fixed rate 15 tahun dalam US$, ditambah bea2, maka bunganya kalau dari ADB …… jeng jeng: 3%! Tiga persen!

Rendah kan? Macam pinjem 100juta, bayar bunga Rp3 juta per tahun (atau Rp250rb per bulan).

Lha kalau begitu ngutang aja dong, apalagi kalau cuma punya uang dikit. Precisely. Yang masalah adalah, bocornya itu. Mulai dari makelar minta jatah, hutang dipakai beli barang2 gak perlu, sampai ada lho kasus hutang dibungain lagi lantas masuk ke kantong seseorang (lha bunga di bank Indonesia kan jauh lebih tinggi tuh). Lebih parah lagi kalo ngutang buat ngerjain sesuatu yang gak guna. Misalnya pemerintah ngutang, terus dipinjemin duitnya untuk bikin stasiun tv, dan stasiun tv itu kerjaannya pasang sinetron macam “Cantik-cantik, Serigala”.

Buat yang minat kridit ke ADB, perhatikan ya, ini utk pemerintah, kalau untuk private sector lain lagi ratenya.

[Local]Televisi Pembodohan Nasional

Atau Televisi Bodoh Nasional? Nonton TVOne selalu bikin emosi. Sore ini program mengangkat kenaikan harga US dollar vis a vis Rupiah. Argumen penyiar adalah bahwa turunnya nilai Rupiah terhadap dollar menyulitkan masyarakat. Ada Kwik Kian Gie, yang berargumen bahwa rakyat sulit, dan menunggu gebrakan Jokowi misalnya melarang masuknnya buah impor sama sekali.

Pertama, yang kesulitan dengan naiknya nilai $ adalah orang yang komponen konsumsi barang impornya tinggi. Apakah ini orang miskin? NO! Ini adalah wartawan yang suka pakai barang impor, middle class yang komponen konsumsi impornya besar. Kalau orang kayak yang suka mejeng di majalah Tattler sih gak kena efeknya, their money are already in US$ and perhaps even overseas.

Kedua, yang kesulitan dengan naiknya nilai $ adalah orang yg HUTANGNYA banyak dalam dollar. Contohnya? Hehehe saya gak usah bilang, tau sendiri kan (dan hampir default gak bisa bayar hutang).

Ketiga, banyak yang senang dengan dollar mahal. Pertama, orang2 yg ekspor (dan bahan bakunya komponen lokal) karena produknya semakin bersaing di pasar ekspor. Di dalam negeri, produk-produk lokal juga semakin berdaya saing dengan produk impor. Bayangkan, dulu harga lipstick Sariayu Rp35 ribu dibandingkan dengan harga lipstick MAC di bawah Rp200rb. Sekarang, lipstick Sariayu Rp35rb dan lipstick MAC menembus Rp300rb. Kalau anda punya anggaran satu juta rupiah untuk membeli kado natal untuk 5 orang, tebak produk mana yang anda akan beli, produk impor atau buatan dalam negeri?

Keempat, kalau anda sekarang merasa SULIT dengan dollar naik, mendukung kebijakan ala Kwik Kian Gie dengan menutup keran impor sama sekali akan membuat anda MATI. Jadi adalah kebodohan kalo dalam satu kata bilang lho kok sekarang sulit, di lain pihak bilang ayo jadikan keadaan semakin sulit. But you know what, those folks are too ignorant to understand their fallacy of argument. *geleng-geleng*

Tahu gak kayak gimana negara yang tertutup keran impornya? Coba cek bagaimana orang di Kuba dan Korea Utara hidup. Mau seperti itu? Kalau saya sih ogah, anda saja pindah ke sana, sekeluarga TVOne lebih bagus lagi.

 

[Local]Buat Apa Harga BBM Naik?

A woman cooks bread over burning cow dung in New Delhi, India
A woman cooks bread over burning cow dung in New Delhi, India (Source: Reuters via National Geographic)

Sebenarnya pertanyaan yang lebih betul adalah, buat apa melepas subsidi bahan bakar minyak (BBM). Harga akan ditentukan oleh pasar sesuai dengan nilai barang tersebut bagi para penggunanya (terutama bila subsidi dilepas seluruhnya).

Ada banyak justifikasi melepas subsidi yang diungkap di media, tapi beberapa alasan yang belum saya lihat terartikulasi dengan baik (atau bahkan tidak sama sekali) . Pertama adalah peletakan nilai BBM pada tingkat sesungguhnya dibandingkan barang lain. Bila subsidi terus diberikan, BBM akan relatif dianggap murah dibandingkan bahan bakar lain; dibandingkan jalan kaki; dibandingkan lipstik; dibandingkan es krim. Selanjutnya, hal-hal yang intensif menggunakan BBM (e.g. kebut-kebutan motor) menjadi lebih atraktif (karena relatif murah) dibandingkan hal-hal yang tidak intensif menggunakan bbm (e.g. lomba lari, baca buku). Anak muda yang orang tuanya hanya buruh cuci pun dengan entengnya menghabiskan 2-3 liter bbm untuk kebut-kebutan.

Kedua, bila BBM terus disubsidi di Indonesia, sementara di negara lain tidak, Indonesia akan kalah bersaing dari sisi efisiensi membuat barang. Bayangkan Timor-Leste yang harga BBMnya mengikuti harga pasar (bahkan hingga US$1.3 per liter), bersaing dengan Indonesia dalam memproduksi sepatu. Anggap saja hal-hal lain sama (ketrampilan buruh, ongkos produksi lain kecuali energi yang sama-sama dari BBM), maka karena harus bersaing dengan Indonesia yang murah, Timor-Leste harus mati-matian menjadi efisien, kalau tidak dia tidak bisa menjual sepatunya di pasar ekspor karena kalah dengan Indonesia. Bayangkan nanti ketika BBM benar-benar habis. Siapa yang akan lebih efisien dan memenangkan persaingan?

Bila Indonesia tidak efisien dari sekarang, sementara negara lain dalam 10-20 tahun sudah pandai dan efisien mengolah energi terbarukan untuk dipakai dalam segala lini kehidupan, maka tingkat kesejahteraan orang Indonesia akan relatif rendah dibandingkan penduduk lain di dunia. Bukannya tidak mungkin bagi Timor-Leste memberikan subsidi bagi warganya, wong penduduknya hanya sekitar sejuta orang dan merekapun memiliki ladang minyak (mungkin ada lebih banyak orang di Thamrin-Sudirman dibanding satu negara Timor-Leste) tapi bahkan merekapun tahu bahwa kebijakan tersebut akan menjadi boomerang dalam jangka panjang.

Ketiga, dampak negatif dari subsidi BBM terhadap berkembangnya sumber energi lain. Salah satu acara favorit saya di tv adalah siaran ulang Deutsche Welle, dan jelas terlihat di sana bagaimana sumber energi selain BBM berkembang pesat di Jerman. Mobil dengan 100% tenaga listrik sudah lumrah, bahkan charging station dan segala perangkat charging berkembang. Di Inggris, bus umum menggunakan biogas (dari kotoran manusia dan sisa makanan). Di Indonesia, hampir tidak ada sumber energi lain yang berkembang, padahal negara ini kaya sumber energi, bahkan energi terbarukan yang lebih bersih (rendah emisi karbon, rendah polusi dan baik bagi kesehatan, dll) bahkan yg bersumber dari penduduk yang 250 juta ini.

Keempat, BBM yang murah dibandingkan negara lain mendorong terjadinya penyelundupan. Penyelundupan ke Malaysia dan Timor-Leste sudah banyak direkam dalam media massa; bahkan penyelundupan ini ditengarai merupakan salah satu bisnis bagi (oknum) militer. Kasus tawuran antara Polisi dan TNI di Batam, disebut juga bermula dari permasalahan BBM. Ada banyak kasus seperti ini, yaitu berebut BBM untuk dijual ke tempat lain dan mendapat untung (buntut dari harga yang terlalu murah dan fakta bahwa banyak orang mau membeli walaupun lebih mahal).

Kelima, subsidi BBM mendorong deplesi sumberdaya lain dan polusi. Orang Indonesia masih saja beranggapan bahwa sumberdaya di Indonesia melimpah. Padahal tidak demikian. Ya masih banyak jumlahnya, tapi dibanding dengan jumlah penduduk sudah tidak cukup. Sumberdaya perikanan di hampir seluruh perairan di Indonesia sudah dalam kondisi tangkap lebih, i.e. yang ditangkap bukan hanya yang tumbuh tapi juga stoknya. Ibarat uang di bank, yang diambil tidak hanya bunganya tapi pokoknya. Lama-lama tabungannya habis kalau diambil pokoknya terus. Bahkan diperkirakan pokoknya sudah sangat menurun, terutama karena kita tidak tahu berapa yang diambil secara ilegal. Dalam kondisi ini, kalau diberikan BBM murah malah akan mempercepat habisnya stok. Dengan kata lain, kita bayar orang untuk menghabiskan tabungan. Gila kan? Kenapa ada yang mendukung? Lha siapa yang tidak mau dapat barang murah apalagi gratis? Tapi yang waras harus menggiring yang gila dong, jangan yang gila yang diikuti.

Tentang polusi, selain berkontrobusi terhadap penyakit saluran pernapasan, terhadap kemacetan, dll, emisi BBM juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Panjang ceritanya, tapi biayanya cukup besar and guess what? Yang terkena dampak terbesar adalah orang miskin (karena mereka tidak bisa melindungi diri dari akibatnya, i.e. beli masker, pasang ac,  meninggikan atau pindah rumah karena banjir rob, etc).

Semua argumen di atas solid, silakan Google untuk mendapatkan studi2nya. Tentu kalau berpikir bahwa BBM murah sudah menjadi hak karena merupakan kurnia Tuhan bagi bangsa Indonesia, argumen apapun mentah. Dan bagi mereka ini, saya doakan di hidup berikutnya anda tinggal di India dan harus mengumpulkan kotoran sapi untuk digunakan sebagai bahan bakar memasak tanpa kompor di rumah anda yang sempit tanpa jendela dan tanpa kamar.

 

 

[Local] Daging Babi memang Enak, Jendral!

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM): “Kami menyesalkan bahwa Setyani Novanti dipilih menjadi pemasok daging untuk makan siang di DPR. Saudari Setyani sudah berkali-kali diperiksa oleh BPOM dalam berbagai kasus daging sapi yang bercampur daging babi dan daging celeng.”

Fahri Zoney: “Sebaiknya BPOM tidak berpendapat seperti itu, masing-masing harus fokus di bidangnya. Jadi jangan berkomentar seperti pengamat lah. Kepala BPOM sangat spekulatif dan merugikan DPR secara lembaga serta Setyani secara personal. Kita tidak mau dirugikan dengan segala macam isu yang sejauh ini juga tidak ada kebenarannya. Kalau berani tangkap saja langsung Saudari Setyani.”

Yes, daging babi memang enak, jendral! [Tapi masih lebih enak kaki kodok goreng mentega]

Catatan penulis: Ini adalah karya fiksi. Bila ada kesamaan alur cerita dan nama tokoh (misal dengan berita ini), itu hanya kebetulan belaka.

 

[Local] Wawancara Prabowo Subianto dengan BBC (alias, Mari Saya Tipu)

Wawancara Prabowo Subianto dengan BBC World News Impact benar2 menunjukkan bahwa Prabowo banyak berbohong untuk membentuk opini.

1. Interviewer: “We’re ten days away from the official results. What do you think that result will be?”

Prabowo: “Well all the real count that is coming in shows that I’m leading. So, I think I’m very confident that I’ve gotten the mandate of the Indonesian people.”

HAHAHAHAHAHA. Delusional.

2. Interviewer: menjelaskan bahwa beberapa poll (yg di masa lalu cukup reliable) memberikan hasil bahwa Jokowi menang.

Prabowo: “No no no no, … completely the other way around. Those institutions that you mentioned, they’re all very partisan, they have openly supported Joko Widodo for the last maybe one year. They’re actually part of the Joko Widodo campaign supporters. So they’re completely not objective, and I think they are part of this grand design to manipulate perception. So let us rely on the legal institution of Indonesia. There is General Elections Commission….we have witnesses at every polling station, …. and let the General Elections Commission decide.”

Ya, di sini kelihatan banget tidak tahu malu untuk point a finger to other people, padahal all the polling stations yg memberi data kemenangannya sendiri, adalah supporter of the Prabowo camp. Jigong menuding ingus kotor. This is I think the most revealing part of the interview, di mana dia mencoba memanipulasi pendapat internasional.

3. Interviewer: “Why are you so sure that you think you will win?”

Prabowo: “All the surveryor companies that you mentioned, they are commercial companies. I can tell you sixteen that put me ahead. ”

More lies! Sixteen companies mana? Ini bohong banget.

4. Interviewer: memberikan contoh beberapa pendapat tentang Jokowi (man of the people, etc).

Prabowo: “My rival is a product of PR campaign… he is actually a tool of the oligarchs…..  He is not a man of the people, he claims to be humble but in my opinion that is just an act.”

This is the second most important point for me, di mana dia menghina Jokowi secara terbuka. Sementara Jokowi apa pernah bilang bahwa Prabowo pura-pura merakyat padahal naik kuda Argentina harga milyaran? Yang mana yang lebih pura-pura, sir? Oh wait, you’re not even pura-puraing with the helicopters. Dan tentang oligarchs, bagaimana dengan oligarch di belakang Prabowo sendiri, penguasa media RCTI, TVOne dll? Benar-benar gak malu ya, mungkin dikiranya orang Indonesia tidak bisa bahasa Inggris? Pada titik inilah opini saya tentang Prabowo berada pada level terendah, orang ini lebih rendah dari ******.

5. Interviewer: mengungkit bahwa dulu Prabowo dikaitkan dengan penculikan dan pembunuhan aktivis.

Prabowo: “Everytime I get a lot of support in the polls, all these accusations … come up. I’m leading the third largest party in the fourth largest country in the world. I’m leading a coalition which represents two thirds of the Indonesian people. How can two thirds of the Indonesian people be so stupid to support someone who is what my rivals accuse me of being?”

Now this is just plain stupid. Bahwa dia komandan dari ko alisi yg pegang 2/3 kursi parlemen (katanya, saya sendiri belum hitung), bukan berarti 2/3 orang Indonesia mendukung dia. Makanya kita punya Pilpres langsung, one man one vote, persis untuk menunjukkan bahwa kursi di parlemen tidak menunjukkan besarnya mandan kepresidenan. Ini buah dari pengalaman pahit di masa lalu, ketika partai pemenang pemilu ditikam dari belakang oleh ko alisi partai2 gurem (I don’t know why he always pronounce it like that, as if it’s two words).

6. Interviewer: “Isn’t it about time that you address this allegations? How are you going to put an end to it?” (kelihatan interviewer berjuang mencari kata agar Prabowo mengerti bahwa dia menanyakan gimana caranya, CARAnya sir!).

Prabowo: “I have answered many many times on record…. This is just a political campaign to destroy me.”

Kalau saya dituduh mencuri, apa yang saya lakukan? Bilang berkali-kali bahwa saya tidak mencuri? Gak cukup! Saya akan menyediakan alibi, membawa orang-orang untuk bersaksi, meminta untuk dibuka pengadilannya, minta rekening saya dibuka, rumah saya diperiksa, transaksi saya diperiksa, tas saya digeledah, untuk membuktikan saya tidak mencuri. Kalau saya tidak mencuri. Sejak kapan cukup untuk bilang “I didn’t do it!” Dan dalam hal ini, Prabowo tidak punya game plan selain bilang “I didn’t do it”,which is, bahkan untuk pencuri ayam pun, tidak cukup. So he can not defend himself other than to say I didn’t do it, in which case it is increasingly looking like he is guilty. Menurut saya, jangan ragu2, Jokowi sikat saja, buka semua 1998 supaya apa yang terjadi saat itu. Dan sekalian persistiwa 1965, supaya jelas once and for all apakah Suharto melakukan kudeta (dan menghentikan nonsens tentang doi sebagai pahlawan nasional). Tapi kemungkinan Jokowi tidak akan buka, karena dia terlalu cinta damai.

Masih ada beberapa poin lain seperti penyerangan yang dilakukan oleh camp Jokowi ke tv station. Saya sendiri gak paham isu ini, setahu saya karena TVOne menuduh PDIP or someone there as communist? I don’t really care about this point krn menurut saya yg melakukan penyerangan ke TVOne juga bodoh. Perkarakan saja and SUE THEM FOR BOATLOADS OF MONEY! OR CLOSE THEM DOWN! Ngapain diserang, not worth getting your hands dirty.

Anyway, jadi kesimpulannya apa?

1. Prabowo tidak sepintar yang orang pikir atau yang dia ingin orang pikir. Dia pintar ngomong, pintar Bahasa Inggris. Bahkan mungkin ini alasan dia maju dalam karir militer, i.e. karena dia pintar ngomong dan bisa Bhs Inggris. Jaman dulu kan jarang yg punya kemampuan seperti ini. Jadi sebenarnya Prabowo ini biasa-biasa saja, tidak pintar apalagi brilyan. Makanya gagal terus, sudah dapat semua fasilitas tetap gagal dalam karir sebagai militer (salahkan TNI kalau Timtim lepas, kalau diperlakukan berperikemanusiaan tentu senang di bawah Indonesia) dan tidak visioner (he bet on the wrong side of democracy, on the wrong girl,….. etc).

2. Prabowo tidak segan memutarbalikkan fakta bahkan berbohong dan melakukan penipuan. Didikannya intelijen, ya harusnya memang telah didik untuk itu, tapi selain itu doi juga tidak punya malu untuk menuding orang lain menipu, padahal dia sendiri yang menipu.

3. Prabowo seperti anak kecil, yang kalau tidak dapat apa yang dimau, merengek2. Dan dia bisa diperdayakan oleh orang-orang yg menjilat pantatnya (mana ahli statistik dan matematiknya, mana?!). A poor judge of character.

Hampir setengah orang Indonesia bisa dibohongi oleh Prabowo dan mesinnya. It is a sorry state.

 

 

 

[Loca]Ilmu Statistik adalah Seni

Source
Source

Ilmu statistik adalah seni, itu dulu disebut oleh salah satu dosen saya. Tapi saya lupa siapa. Atau saya baca dalam buku teks ya? Anyway, hasil quick count Pilpres RI kesempatan bagus untuk refresh lagi, terutama mengkritisi beberapa penjelasan yang saya temukan online.

1. Tentang random sampling. Lha random (acak) itu bukan berarti tanpa aturan. Simpelnya, setiap unit sampel memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Jadi bisa saya, bisa tetangga depan, bisa tetangga belakang, dll. Penjelasan di sini tidak tepat, karena ada satu bagian dari populasi yang sepertinya dengan sampling strategy apapun, memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi sampel (yg di tengah, dibandingkan yg di pinggir-pinggir). Bukan itu artinya random. Random adalah misalnya di satu kompleks ada 100 rumah, diperlukan 10 sampel, maka dihitung tiap rumah ke 10, dan rumah pertama dipilih oleh komputer dari nomor rumah yang sudah dimasukkan ke dalam database, lantas berlanjut searah jarum jam. Dengan sampling strategy seperti ini, sebelum survey dilakukan, tidak ada yang bisa mengatakan bahwa rumah tertentu pasti jadi sampel dan rumah lain tidak. Atau rumah mewah memiliki kans menjadi sampel lebih besar, dibanding rumah sederhana. Bahkan ketika tiba di suatu rumah, dan ternyata tidak ada orang, harus sudah ada protokol untuk mengatur apa yang terjadi (apakah rumah di kiri atau kanan yang diambil, dan apakah untuk menentukannya dilakukan pelembaran koin, dll).

Tapi bahkan ketika metode sampling pun sudah sama, ada kemungkinan sampel tidak sama. Misalnya, sampel ditentukan bukan berdasarkan rumah, tapi berdasarkan nama kepala keluarga, yang sudah diurut alfabetis. Komputer memilih nama pertama untuk start penghitungan, dari 100 nama, dan sampel berikutnya adalah hitungan ke 10 bergerak ke alfabet dalam urutan berikutnya. Tapi kalau mengurut nama kepala keluarga ternyata terbalik, descending dan bukan ascending (jadi dari Z ke A), maka tentu 10 orang yang terpilih sebagai sampel pun tidak akan sama persis.

2. Tentang stratified random sampling. Di sini sebenarnya nilai seninya. Katakanlah anda ingin mengetahui berapa % wanita suka memakai lipstik warna merah. Kalau populasi anda adalah semua orang yg pernah membeli lipstik merah, maka untuk mengetahui apakah mereka suka memakai lipstik merah, anda hanya perlu sampel kecil, satu orang sudah cukup. Jawabannya sudah mereflesikan populasi tersebut.

[Hiperbole ini, tergantung populasinya juga sih, ada yang sudah beli tapi takut pakenya. Ah wanita!].

Kalau anda ingin tahu berapa % wanita yang sedang berada di Mall hari ini, suka memakai lipstick merah sehari-hari, tentu sampel sejumlah 1 tidak cukup representatif. Bila di Mall sekarang ada 1,000 orang, paling akurat untuk menanyakan kepada mereka semua. Tapi tidak perlu juga, kalau anda tahu profil dari seribu orang tsb. Misal dari 1,000 pengunjung tersebut ada 500 orang biarawati uzur yang sedang berkunjung mengadakan temu kangen. Dari 500 orang ini ya perlu sample sedikit saja, cukuplah untuk mengetahui mereka suka memakai lipstick merah atau tidak. Dari 500 orang lainnya, terbagi antara remaja, wanita dewasa, nenek2, dll, jumlah sampelnya tentu berbeda dengan si 500 biarawati, karena profil populasi tersebut lebih heterogen, perlu lebih banyak sampel.

Jelas bahwa untuk melakukan stratifikasi, perlu pengetahuan tentang populasi. Dan biasanya pengetahuan ini semakin terasah dengan pengalaman.

3. Jumlah sampel banyak berarti akurat? NO! Dengan contoh di atas, misal budget anda untuk interview 100 orang, dan anda ambil sampel 50 di kalangan biarawati, dan 50 di sisanya. Sedangkan saya, dengan budget untuk 60, ambil sampel 5 di biarawati dan 55 untuk 500 pengunjung lainnya. Hasil survey saya mungkin malah lebih akurat dibanding survey anda (dengan biaya yg lebih rendah pula). Sekali lagi, semakin berpengalaman, akan semakin efisien tanpa mengorbankan presisi. Sama saja dengan masak bubur ayam atau bikin velvet cake, ngerti takaran yang pas.

Yang paling presisi tentunya adalah penghitungan untuk seluruh populasi. Dalam hal ini, hasil dari 479,183 TPS seluruh Indonesia dan luar negeri. Sebenarnya di jaman teknologi tidak sulit, tapi saya tetap takjub bahwa hasil scan form rekapitulasi bisa kita lihat sendiri di website KPU: http://pilpres2014.kpu.go.id/c1.php

Saya pikir, ini upaya yang sangat baik dari KPU untuk transparan dan adil. Kita bisa cek satu2 tentunya. Saya sudah cek TPS saya, bagaimana dengan anda?

[Local]Buruh yang bekerja 24 jam sehari, tidak demo, tidak perlu uang makan? Ada!

Masih berhubung dengan tempa perang dalam pertarungan Calon Presiden Republik Indonesia, saya tidak terlampau setuju bahwa ini bukan perang. Lha pada kenyataannya sudah perang kok. Mengatakan ‘jangan perang’, ‘mari damai’, ‘semua cinta damai’ dll hanya membuat kerongkongan kering. Yang penting, jaga saja agar yang berlaku kriminal ditangkap, gitu aja susah.

Tapi pada level ide, perangnya miskin sekali. Semua topik dikaitkan dengan budget. Budget itu bukan segalanya, oom! Akhirnya toh nanti siapapun harus pragmatis, kalo duit di dompet tinggal seribu, ya dipas-pasin. Atau ngutang.

Topik yang lebih hangat macam penghapusan outsourcing dan gaji Rp6juta buat buruh, kan menarik untuk dibahas. Tempo hari ngobrol sama supir taksi, dia saja sadar dampaknya menaikkan gaji buruh, buruhnya sendiri gak sadar. [Incidentally, supir taksi dengan pendidikan tertinggi yang pernah saya temui punya gelar master di bidang kartografi (pembuaatan peta) dari Belanda, sekitar akhir tahun 1990an, sekitar masa krisis ekonomi. Not much demand for map-making at that time, but I hope he is flourishing today.]

Pertama, kalau gaji buruh tinggi,maka pengusaha pembuat barang2 murah akan hengkang ke tempat dengan gaji buruh rendah. Mungkin ke Vietnam, orang-orang pragmatis yang lebih baik tidak makan beras dan mengekspornya karena harganya tinggi (dibanding Indonesia, yang solusinya terhadap kenaikan harga adalah stop ekspor! stop impor! mari masuk dalam tempurung dan menyanyikan Indonesia Raya!).

Kedua, akan semakin banyak orang masuk ke sektor tersebut. Supir taksi, sarjana yg masih menganggur, ibu2 rumah tangga yang tadinya gak kerja, dll. Persaingan makin ketat! Justru buruh dgn kualifikasi pas-pasan mesti hati2, jangan-jangan mereka yang terperosok ke sektor informal macam kuli angkut barang. Karena kerja kontrakpun sudah dihapus toh?  Memang betul buruh akan lebih sejahtera, tapi itu bukan kalian. Itu akan buruh kelas baru, yang lebih berpendidikan dan trampil, dengan majikan kelas baru dan produk kelas baru.

Terakhir, semakin tinggi gaji dan fasilitas yang diminta oleh buruh, semakin besar dorongan bagi pengusaha untuk melakukan otomatisasi. Robots to the rescue! Saat ini Jepang sedang besar-besaran melakukan otomatisasi, karena penduduk mereka menciut. Mereka tidak suka orang asing membanjir, tapi di lain pihak pekerja-pekerjanya uzur dan cewek2nya ogah punya anak. Solusinya adalah robot! Dengan mudah teknologi ini bisa dibawa ke negara lain, tinggal dirakit. Lha dokter saja bisa digantikan robot apalagi buruh. Memang investasi awal besar, tapi robot tidak akan mogok, minta naik gaji, demo, dll.

Sebenarnya dengan tuntutan yang terlaku keras dan muluk, dan membiarkan orang berbuat yang muluk, buruh membunyikan lonceng kematian bagi dirinya sendiri.

Apakah berarti buruh tidak berhak sejahtera? Tentu berhak, tapi tidak hanya buruh yang berhak sejahtera, yang masih bermimpi untuk dapat kerja juga berhak, yang cacat dan yang tua renta juga. Makanya tuntutlah pemerintah menyediakan pendidikan gratis, pengobatan gratis, maka kau akan berjuang dengan seluruh rakyat. Jadi walaupun gaji kecil, kalau keluarga sakit tidak jatuh miskin dan anak (SATU saja cukup!) bisa sekolah hingga kelak terampil dan bisa jadi bos atas para robot! Uang jangan dihabiskan buat rokok dan pulsa, sebaiknya gunakan untuk beli sayur atau buku buat anak — masa depan merekalah yang kita perjuangkan. Salam dua jari.