[Local]Buat Apa Harga BBM Naik?

A woman cooks bread over burning cow dung in New Delhi, India
A woman cooks bread over burning cow dung in New Delhi, India (Source: Reuters via National Geographic)

Sebenarnya pertanyaan yang lebih betul adalah, buat apa melepas subsidi bahan bakar minyak (BBM). Harga akan ditentukan oleh pasar sesuai dengan nilai barang tersebut bagi para penggunanya (terutama bila subsidi dilepas seluruhnya).

Ada banyak justifikasi melepas subsidi yang diungkap di media, tapi beberapa alasan yang belum saya lihat terartikulasi dengan baik (atau bahkan tidak sama sekali) . Pertama adalah peletakan nilai BBM pada tingkat sesungguhnya dibandingkan barang lain. Bila subsidi terus diberikan, BBM akan relatif dianggap murah dibandingkan bahan bakar lain; dibandingkan jalan kaki; dibandingkan lipstik; dibandingkan es krim. Selanjutnya, hal-hal yang intensif menggunakan BBM (e.g. kebut-kebutan motor) menjadi lebih atraktif (karena relatif murah) dibandingkan hal-hal yang tidak intensif menggunakan bbm (e.g. lomba lari, baca buku). Anak muda yang orang tuanya hanya buruh cuci pun dengan entengnya menghabiskan 2-3 liter bbm untuk kebut-kebutan.

Kedua, bila BBM terus disubsidi di Indonesia, sementara di negara lain tidak, Indonesia akan kalah bersaing dari sisi efisiensi membuat barang. Bayangkan Timor-Leste yang harga BBMnya mengikuti harga pasar (bahkan hingga US$1.3 per liter), bersaing dengan Indonesia dalam memproduksi sepatu. Anggap saja hal-hal lain sama (ketrampilan buruh, ongkos produksi lain kecuali energi yang sama-sama dari BBM), maka karena harus bersaing dengan Indonesia yang murah, Timor-Leste harus mati-matian menjadi efisien, kalau tidak dia tidak bisa menjual sepatunya di pasar ekspor karena kalah dengan Indonesia. Bayangkan nanti ketika BBM benar-benar habis. Siapa yang akan lebih efisien dan memenangkan persaingan?

Bila Indonesia tidak efisien dari sekarang, sementara negara lain dalam 10-20 tahun sudah pandai dan efisien mengolah energi terbarukan untuk dipakai dalam segala lini kehidupan, maka tingkat kesejahteraan orang Indonesia akan relatif rendah dibandingkan penduduk lain di dunia. Bukannya tidak mungkin bagi Timor-Leste memberikan subsidi bagi warganya, wong penduduknya hanya sekitar sejuta orang dan merekapun memiliki ladang minyak (mungkin ada lebih banyak orang di Thamrin-Sudirman dibanding satu negara Timor-Leste) tapi bahkan merekapun tahu bahwa kebijakan tersebut akan menjadi boomerang dalam jangka panjang.

Ketiga, dampak negatif dari subsidi BBM terhadap berkembangnya sumber energi lain. Salah satu acara favorit saya di tv adalah siaran ulang Deutsche Welle, dan jelas terlihat di sana bagaimana sumber energi selain BBM berkembang pesat di Jerman. Mobil dengan 100% tenaga listrik sudah lumrah, bahkan charging station dan segala perangkat charging berkembang. Di Inggris, bus umum menggunakan biogas (dari kotoran manusia dan sisa makanan). Di Indonesia, hampir tidak ada sumber energi lain yang berkembang, padahal negara ini kaya sumber energi, bahkan energi terbarukan yang lebih bersih (rendah emisi karbon, rendah polusi dan baik bagi kesehatan, dll) bahkan yg bersumber dari penduduk yang 250 juta ini.

Keempat, BBM yang murah dibandingkan negara lain mendorong terjadinya penyelundupan. Penyelundupan ke Malaysia dan Timor-Leste sudah banyak direkam dalam media massa; bahkan penyelundupan ini ditengarai merupakan salah satu bisnis bagi (oknum) militer. Kasus tawuran antara Polisi dan TNI di Batam, disebut juga bermula dari permasalahan BBM. Ada banyak kasus seperti ini, yaitu berebut BBM untuk dijual ke tempat lain dan mendapat untung (buntut dari harga yang terlalu murah dan fakta bahwa banyak orang mau membeli walaupun lebih mahal).

Kelima, subsidi BBM mendorong deplesi sumberdaya lain dan polusi. Orang Indonesia masih saja beranggapan bahwa sumberdaya di Indonesia melimpah. Padahal tidak demikian. Ya masih banyak jumlahnya, tapi dibanding dengan jumlah penduduk sudah tidak cukup. Sumberdaya perikanan di hampir seluruh perairan di Indonesia sudah dalam kondisi tangkap lebih, i.e. yang ditangkap bukan hanya yang tumbuh tapi juga stoknya. Ibarat uang di bank, yang diambil tidak hanya bunganya tapi pokoknya. Lama-lama tabungannya habis kalau diambil pokoknya terus. Bahkan diperkirakan pokoknya sudah sangat menurun, terutama karena kita tidak tahu berapa yang diambil secara ilegal. Dalam kondisi ini, kalau diberikan BBM murah malah akan mempercepat habisnya stok. Dengan kata lain, kita bayar orang untuk menghabiskan tabungan. Gila kan? Kenapa ada yang mendukung? Lha siapa yang tidak mau dapat barang murah apalagi gratis? Tapi yang waras harus menggiring yang gila dong, jangan yang gila yang diikuti.

Tentang polusi, selain berkontrobusi terhadap penyakit saluran pernapasan, terhadap kemacetan, dll, emisi BBM juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Panjang ceritanya, tapi biayanya cukup besar and guess what? Yang terkena dampak terbesar adalah orang miskin (karena mereka tidak bisa melindungi diri dari akibatnya, i.e. beli masker, pasang ac,  meninggikan atau pindah rumah karena banjir rob, etc).

Semua argumen di atas solid, silakan Google untuk mendapatkan studi2nya. Tentu kalau berpikir bahwa BBM murah sudah menjadi hak karena merupakan kurnia Tuhan bagi bangsa Indonesia, argumen apapun mentah. Dan bagi mereka ini, saya doakan di hidup berikutnya anda tinggal di India dan harus mengumpulkan kotoran sapi untuk digunakan sebagai bahan bakar memasak tanpa kompor di rumah anda yang sempit tanpa jendela dan tanpa kamar.

 

 

Thoughts? Leave a comment!