[Local]Being Golput when the stakes are high is only for the Ignorant

It’s a bit blunt, but I do agree with this guy commenting on the Jakarta Post piece. Against all risks, the JP decides to officially announce their support for Joko Widodo. Saya kok jadi ingat suatu kejadian di pertengahan 90-an. Waktu itu saya melamar menjadi panitia sebuah event internasional di Jakarta, dan kala itu, semua yang terlibat mewakili negara akan diwawancara oleh hmm siapa mereka ya, saya lupa naanya. BP4 atau sejenisnya, badan penegak Pancasila. Akhirnya sampailah ke pertanyaan tentang keluarga dan anak-anak tokoh PKI. Apakah mereka patut bebas dalam masyarakat. Semacam itulah. Dan jawaban saya ya tentu saja, lha wong anaknya gak salah kok. Eh ternyata ini bukan jawaban yang ‘benar’. Akhirnya di-‘interogasilah’ saya sampai berjam-jam, dan diskusi masuk sampai ke isu Marxisme dll. Saya mulai khawatir karena saya tahu pendapat saya tidak mainstream (as evidenced in this blog). I thought about the probability of being ‘taken away’, yang sering terjadi jaman itu.

Meja-meja wawancara lain sudah berganti-ganti orang, saya masih sama bapak itu, mungkin 5 jam. Setelah sampai sore hari, tinggal kami di meja itu yang lain sudah selesai. Kasihan juga, he got the wrong person to go head-to-head with. Akhirnya dia tutup juga wawancaranya. Saya sudah pasrah, saya pikir saya tidak akan diterima, masih bagus tidak ditangkap. Eh ternyata diterima.

Pointnya adalah, mempertahankan pendapat memakan waktu dan energi. Pastilah Jakarta Post sudah melakukan diskusi panjang dengan pemilik, pekerja, dan stakehholder mereka lainnya. But defending your conviction feels good.

But, I aim to sway so here I shoot cause helloooo, the stakes ARE high.

1. Kenapa Prabowo baru dimasalahkan sekarang, tapi di 2009 waktu duet dengan Megawati tidak?

Defending your conviction itu cape bok! Kalo memang orangnya gak bakal menang (dan pada saat itu poll utk SBY di kitaran 70% kalau tak salah ingat), ya diemin aja. Biarin deh mereka kampanye, hitung2 kontribusi terhadap roda perekonomian negara toh, all the t-shirts, nasi bungkus and metromini chartered? Para aktivis orang paling rasionallah kalo soal strategi, energi gak usah dibuang percuma. But now? The stakes are high.

2. Kubu Prabowo anti kampanye hitam.

Lho jadi kampanye hitam ke Jokowi, yang bilang dia orang kafirlah, inilah itulah, asalnya bukan dari pendukung Prabowo? Dari mana, pendukung Vladimir Putin? Kalau dibilang tidak tahu siapa pendana Obor Rakyat, bullshit. Ini bukan pendana kelas tikus. Kalau benar berita beredar bahwa 100,000 eksemplar beredar tiga kali, dengan asumsi biaya cetak Rp15rb (beberapa halaman full color bo!), maka ini sekitar (bentar, hitung nolnya dulu) Rp4,5 milyar. Jelas ini bukan dukungan level Ahmad Dhani. Dan tidak tahu? Ridiculous.

[Incidentally, kalau takut sama kafir, ya lebih baik milih Jokowi. Kalo Prabowo kan ibunya Kristen, didikan dari lahir sudah kafir macam saya, katanya kan 5 tahun pertama penting tuh menanamkan karakter? Sodara-sodaranya juga pelangi. Jadi, saya gak ngerti logikanya orang Sumsel yang pilih Prabowo karena Jokowi kafir, kalau hal itu memang benar yang terjadi. Tapi yang paling keliatan hipokrit ya macam FPI dan PKS. Hari ini bilang kafir, ketika dijanjikan kedudukan, ikutan. Hidup kafir! Saya aja yang kafir pilih yang muslim. Nah bingung kan? Lha namanya agama suku ras gak usah deh dimasukkan faktor pertimbangan. Yang penting karakter, bung! Emang bisa diminta terlahir sebagai orang Norwegia? Masih untung bukan orang Congo! Masing2 tertinggi dan terendah tingkat kesejahteraannya di dunia.]

Ok fine, kalau gak tahu, memang Prabowo kayaknya kuper, gak tahu ini itu. Tim Mawar gak tau, tim lain gak tau, siapa si kocek tebal gak tau, ckckck. Percuma pinter.

Kalo tahu tapi menutupi, lha katanya anti kampanye hitam? Berarti boong dong, kok gak bisa kontrol apa yang dikerjakan pendukungnya? That you cannot control your anak buah is increasingly evident, bung.

3. Tidak ada bukti Prabowo kabur ke Jordania/terlibat kerusuhan 98/dipecat tidak hormat etc.

Yang paling saya gak ngerti tuh kata ‘bukti’. Pendukung Prabowo selalu bilang tidak ada buktinya karena Prabowo kan sudah bilang dia bisnis/dia gak tau/dia ini itu. Sejak omongan orang yg melakukan bisa menjadi bukti? Kalau tidak salah, dalam hukum, bahkan bila ada seseorang mengaku membunuh, untuk menjatuhkan vonis pengadilan harus mencari bukti dulu. Jadi tidak bisa pada omongan orang yang bersangkutan. Jadi ini bukan ‘bukti’ namanya. Dan omongan orang di twitter/facebook/blog macam saya ini, juga bukan bukti, bukan benar, bukan fakta. Ini adalah opini.

Given tidak ada proses pengadilan yang benar, maka hanya ada kejadian2 yang bisa memberikan arah, itupun bukan bukti. Misal kejadian penculikan oleh aktivis oleh anak buah Prabowo (pengakuan tim mawar); Prabowo hengkang ke luar negeri (cap di paspor, pasti ada toh); dipecat oleh TNI (bukti dokumen TNI); kejadian pisah dengan anak istri (bukti tidak serumah-incidentally, some people say what has it got to do with his qualifications as president? Nah ini. pembelaan kubu Prabowo adalah doi diusir oleh Keluarga Suharto. Lha kalo sama mertua aja takut gimana mau melawan dunia, jendral?! so, I say it plays a large role. apakah diusir?  Kalau ya, spineless! dan kenapa? Kalau tidak diusir tapi pergi sudah tidak ada cinta, berarti pintar bersandiwara. I actually think it’s an important indicator of character).

Itu dari sisi personalia. Dari sisi kebijakan, koalisi belangbentongnya saja sudah keliatan ngaconya. Terutama koalisi dengan FPI. [Kalau tahu buah dari angkat senjata dan masuk penjara adalah organ macam FPI bisa bebas di Indonesia, dulu nenek moyang gue ngapain cape2, enakan di bawah Belandalah.] Plus kebijakan-kebijakannya yang ajaib – cetak 2juta hektar sawah! kasih Rp1milyar per desa! kasih duit ke guru/petani/buruh/semua orang! agama dimurnikan!

Kalau Jakarta Post heran kenapa orang cepat melupakan kejadian 1998, saya heran kenapa orang cepat melupakan gagalnya Orde Baru. Padahal saya termasuk orang yang nyaman lho di jaman Orba, gak pernah dipenjara, masuk sekolah no 1, dll. Tapi percayalah, ketika hati nurani dikekang,  ketika logika diberangus, ketika mulut dipasung, itu tidak enak. Jujur. Lebih enak bisa bicara bebas, bisa berpikir bebas, tapi makan seadanya. Itu dulu cita-cita pendahulu kita ketika berjuang untuk merdeka. Jangan sia-siakan. Pilihlah demi pembaruan, perbaikan, dan perjuangan untuk Indonesia yang pluralis dan demokratis. Jangan khianati leluhur anda (kecuali leluhur anda Kartosuwiryo atau Dr. Suomokil lain cerita).

Selamat berperang dengan dirimu sendiri.

Thoughts? Leave a comment!