[Local]Beli Kuda dari Argentina itu Termasuk Bocor Bukan?

Bocor jadi kata kunci di Indonesia sekarang. Dan ini ekonom ngaco. Atau wartawan ngaco.

“semakin tinggi nilai ICOR, itu artinya semakin tidak efisien modal yang digunakan oleh pemerintah Indonesia”

ICOR (ai-kor) itu bukan mengukur produktivitas pemerintah. Lha pemerintah kerjaannya kagak bangun jalan, bikin sepatu, bikin furniture. ICOR itu urusannya private sector, kerjaan kita-kita orang, real sector, yang asli orang Indonesia sama yang asing, digabung. Pemerintah itu mengawasi. Kenapa rendah, ya ada kontribusi pemerintah juga misal pengurusan ijin2 lambat, tidak jelas, tata-ruang rubah2, dll.

“Sebanyak 52-40 persen kebocoran pajak atau yang dibilang Prabowo itu opportunity loss karena kita menyerahkan atau transfer keuntungan ke asing, maka ada kebocoran ke luar negeri.”

Ini lebih parah lagi, dicampur aduk semuanya pajak, bocor, opportunity loss, keuntungan, asing. Sigh. Pajak bocor artinya tidak optimal, kenapa, bisa 1) kkn, jadi harusnya dipungut 15%, realisasi 4%); 2) pajaknya gak diitung bener, gak progresif, macam orang angkut 1 ton batu bara pajaknya per ton sama dengan dia angkut seribu ton. Dia angkut 1 ton ikan, sama per tonnya dengan 1,000 ton ikan. Lha pajak penghasilan kita2 kenapa dihitung progresif tapi pengusaha enggak? Coba deh tanya ARB, dia demen gak pakai pajak progresif buat usaha batubaranya (eh masih kan? atau udah bangkrut?).

Opportunity loss itu hilang kesempatan. Kesempatan mendapat uang contohnya, karena proyek dikasih ke orang asing yang mengelola dan mereka dapat untungnya. Lha emang ada orang yg mau mengelola dan gak dapat untung? Jangankan orang asing, orang Indonesia aja gak ada yang mau kalo gak ada untung GUEDHE. Makanya di Raja Ampat yang bikin resort orang bule, karena orang Indonesia gak mau risiko gede, kerja susah, untung kecil. Mereka maunya ‘main’ batubara, sawit, dll yang gampang, tinggal keruk jual keruk jual, gak pake urusan dengan rakyat, community development, sustainability, dll.

Opportunity loss itu juga ketika duit kita tidak bergerak dalam bentuk kuda. Let’s say nilai kuda Rp100milyar rupiah, di kandang. Lha hilanglah kesempatan  untuk uang berbunga di bank, di instrumen investasi lainnya. Kecuali kuda ternyata instrumen investasi, bisa juga, anakannya kan pasti ada. *shrugs*

“migas, pertambangan lain, energi, listrik yang lari ke asing”

Kenapa lari ke asing, karena orang Indonesia gak bisa ngerjain! Gak mampu. Coba deh, anda sebutkan 3 hal di mana pemerintah Indonesia dikenal karena efisiensi. Ok jangan 3, satu aja deh. Something that Indonesian government does efficiently, terutama buat kalian yg pernah tinggal di luar negeri.*krikkrikrik*

Ok, bagaimana dengan private sector? Private sector Indonesia mana yg dikenal efisien di dunia? Mungkin sektor animasi, membuat batik,membuat bulu mata ya. Asing yang malah nyari ke mari. Gak ada kan, produksi batik lari ke ‘asing’? Ya karena kita efisien. Mau lempar urusan energi, tambang dll ke para pembatik? *shrugs* Kalau urusan pengelolaan dikasih ke orang yg lebh tidak efisien, guess what happens to ICOR? Ya semakin jelek nilainya. Jadi kembali ke atas, kita close the loop. ICOR jelek, lantas hal-hal ya lari ke asing itu dibawa ke dalam negeri, what happens with ICOR? Kalau dibuka pasar taruhan sih, saya taruh duit di ICOR akan semakin jelek. Dengan kata lain, ICORnya bocor. *rhymes*

Dekat2 Pemilu memang urusan nasionalisme lebih kental, tapi nasionalisme sempit. Semua harus dikerjakan oleh kita sendiri, semua duit harus tetap di dalam negeri. Lha kalo begitu jadinya, gak bisa beli kuda dari Argentina dong kalo duit kudu parkir di dalam negeri? Btw, kalau beli kuda-kuda dari Argentina itu termasuk bocor atau bukan? Kalo beli kosmetik impor ya jelas bocor; dompet saya yang bocor maksudnya.

 

Thoughts? Leave a comment!