[Local] Seandainya Hittler Dulu Menang, Mana ada Negara Indonesia. Kita Semua Sekarang Sudah Jadi Budak Ras Aria

Saya tidak mengerti kenapa orang masih menganggap Ahmad Dhani relevan. Masih banyak role model yang lebih baik.

Anyway, Boni Hargens juga kadang tidak bisa dipercaya karena suka drama, saya cari sendiri artikel Der Spiegel yang sekarang ramai dibahas. Benar-benar rindu intellectually stimulating discussion on the elections, but I think we will have to wait until around August or September, ketika para intelektual (the real intellectuals) selesai berefleksi.

Anyway, tidak ada yang baru di artikel Der Spiegel (‘cermin’) tersebut, dan Boni Hargens terbukti juga mendramatisir kali ini.

1. Der Spiegel tidak bilang kalau kampanye Prabowo militeristik. Ternyata mereka tidak sedalam itu; kalau benar mereka bilang seperti itu, baik sekali pengamatannya. Tapi ternyata mereka hanya bilang kalau kampanye Prabowo dipenuhi dengan nilai estetika kemiliteran. Which is, sah-sah aja, rumah mode Alexander McQueen juga sarat dengan nilai estetis kemiliteran, not least worn by Kate Middleton.

2. Der Spiegel tidak bilang bahwa mereka khawatir Indonesia jatuh kembali ke jaman diktator. Yang mereka bilang, para aktivis prodemokrasi dan wartawan khawatir Indonesia jatuh kembali ke jaman diktator.

Yang paling menarik menurut saya justru salah satu komentar di artikel tersebut, bahwa seandainya Hitler menang, saat ini tidak akan ada yang namanya Indonesia. Ini benar sekali. Seandainya skenario itu yang terjadi, mungkin orang Indonesia (dan orang Asia kulit sawo matang lainnya) saat ini adalah budak para ras Aria dan kolaboratornya. I might be comfort woman and you might be digging trenches in the deep winter of Germany. Ahmad Dhani mungkin jongos yang membersihkan kakus mereka (he loves them so much, they might give him the easy job). Jadi jangan main-main dengan sejarah, don’t take it lightly and play around, because freedom is precious. It is precious.

 

 

Thoughts? Leave a comment!